Paijo, Sudah Bereksperimen Sejak Kecil

Nama saya Paijo. Sejak kecil (SD), saya sudah tertarik tentang hal-hal yang bersifat teknik dan mekanik. Banyak eksperimen kecil-kecilan yang telah saya lakukan sejak kecil hingga sekarang. Sangat disayangkan, sebagian besar tidak terdokumentasikan bahkan nyaris tanpa jejak sama sekali. Namun demikian, ada beberapa diantaranya yang cukup menarik untuk disharingkan. Saya bersyukur dikaruniai daya ingat grafis yang cukup kuat sehingga saya masih dapat mengingat semua eksperimen saya bahkan sampai ke detailnya sekalipun.

Belakangan ini, saya berusaha untuk merekonstruksi hasil-hasil eksperimen saya terdahulu untuk disharingkan dengan anak-anak saya dan juga orang lain yang berminat. Saya menyadari bahwa saya hanyalah seorang eksperimenter bonek. Dapat dikatakan bahwa bakat saya berkembang karena alam, dan tidak tersentuh pendidikan formal yang berhubungan dengan teknik karena masalah kesulitan biaya. Namun demikian, saya bangga menjadi seorang Paijo Eksperimenter Freelance.

KISAH PENEMUAN PERTAMA SAYA

Ketika masih kecil (SD) saya sering disuruh orangtua saya untuk menjaga padi di sawah supaya tidak habis dimakan burung pipit. Karena bosan menjaga selama seharian, saya berfikir untuk memanfaatkan aliran air pancuran di situ untuk menggerakkan orang-orangan sawah. Untuk itu akhirnya saya buat sebuah kincir kecil (kincir type lintasan) yang porosnya diberi engkol untuk menarik-narik tali yang dihubungkan ke orang-orangan sawah yang diberi bunyi-bunyian (kaleng yang diisi kerikil). Kincir ini kemudian tidak dapat berfungsi ketika debit air menjadi sangat kecil. Oleh karena itu saya kembali mencari cara lain untuk menggerakkan orang-orangan sawah tadi. Mulailah proses rekayasa tanpa bantuan gambar, hanya berimajinasi sambil memegang benda-benda di sekitar sebagai alat bantu. (Catatan : Cara seperti itu masih saya gunakan sampai sekarang dan terbukti efektif. Biasanya gambar/sketsa baru saya buat setelah proses visualisasi. Untuk desain yang cukup rumit, biasanya proses visualisasi dan pembuatan sketsa dilakukan selang-seling secara bergantian)

Setelah desain (di kepala) jadi, maka alatnyapun saya buat dan ternyata sukses. Alat tersebut saya saya beri nama kincir tongkat jungkat-jungkit. Kincir tongkat versi pertama hanya berupa sebatang bambu sepanjang kira-kira satu setengah meter yang dibuat seperti mainan jungkat-jungkit. Pada satu ujung diberi beban (pemberat) dan pengait tali, sedang di ujung lainnya diruncingi (seperti bambu runcing) untuk menadah air pancuran. Cara kerjanyapun sangat sederhana. Ketika ujung runcing kosong, ujung berpemberat berada di bawah dan ujung runcing berada diatas menadah air pancuran. Ketika ujung runcing penuh air (lebih berat daripada pemberat), maka ujung berpemberat akan naik dan ujung runcing akan turun karena lebih berat.

Ketika dalam posisi itu (menungging), maka air akan tumpah sehingga ujung runcing akan kembali kosong dan ringan. Hal itu akan menyebabkan ujung runcing kembali naik lagi ke posisi semula dan menadah air pancuran lagi. Demikian seterusnya, sehingga kincir akan bergerak jungkat-jungkit. Aplikasi kincir tongkat pada waktu itu adalah untuk menarik-narik tali yang dihubungkan dengan orang-orangan sawah agar bergerak-gerak terus dan berbunyi (digantungi kaleng yang diisi kerikil) supaya burung pipit tidak memakan padi di situ. Kelebihan kincir tongkat jungkat-jungkit adalah sederhana dan dapat bekerja pada debit air yang sangat rendah.

Perkembangan lebih lanjut, saya telah mendesain ulang kincir tongkat jungkat-jungkit yang lebih sempurna. Bahannya bukan lagi bambu melainkan kayu (balok, papan , dan paku) atau besi (pipa, plat, bearing). Prinsip dasarnya tetap sama, yaitu jungkat-jungkit. Penyempurnaan saya lakukan pada penampung air dengan sistim pintu air (sistim sliding / geser dan sistim engsel) yang akan membuka total secara otomatis ketika mencapai tanah (dasar) ketika bergerak turun. Selain itu, saya menambahkan mekanisme semacam gerendel penahan yang akan terlepas secara tiba-tiba ketika air di bak telah penuh. Hal tersebut untuk memberikan efek gerak cepat penuh tenaga ketika berjungkit. Jika dibuat dalam ukuran besar, kincir tongkat akan dapat digunakan untuk menggerakkan pompa air (type piston), atau untuk menggerakkan penumbuk padi (alu).

Kelemahannya, tidak cocok untuk menggerakkan dinamo listrik maupun alat lain yang memerlukan gerakan berputar. Kelemahan yang lain, pengaturan frekuensi jungkat-jungkitnya masih kurang fleksibel. Anda tertarik?

About these ads

119 Responses to “Paijo, Sudah Bereksperimen Sejak Kecil”


  1. 1 HARIOM YOGYA Oktober 30, 2006 pukul 3:36 pm

    Pak bagaimana tanggapan bapak untuk yang ini

    Oleh : Sri Sukirno
    Senin, 30 Oktober 2006 (10:40 WIB)

    Saya Peneliti dari TNI-AL, Tenaga matahari cocok diterapkan di daerah yang mendapatkan sinar matahari mencapai 10 jam sehari, dan lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan beban kecil atau yang sifatnya emergency. Lebih dari itu, akan memerlukan biaya yang cukup mahal untuk mendapatkan energi yang berkapasitas besar untuk memenuhi kebutuhan listrik sepanjang hari.
    Sedang tenaga angin lebih cocok dipasang di daerah pantai yang terdapat hembusan angin yang cukup kuat dan sepanjang hari. Saya mencari informasi industri dalam negeri yang mengembangkan Energi tenaga surya diatas 10KW, terima kasih.

    Hariom

  2. 2 HARIOM YOGYA Oktober 30, 2006 pukul 3:38 pm

    Pak paijo punya kumpulan berita energi alternatif dari koran2 jakarta dan daerah seluruh indonesia ?

    thanx
    hariom

  3. 3 Emanuel Setio Dewo Oktober 31, 2006 pukul 12:51 am

    Dear all,
    Berikut adalah beberapa resource tentang solar cell yg mungkin berguna:
    Wilson Wenas Gelisah akan Tragedi Sel Surya
    Diskusi Solar Cell

    Salam

  4. 4 Paijo Oktober 31, 2006 pukul 7:02 am

    Saya juga sudah membaca tulisan dari Bapak Sri Sukirno tersebut di forum energi LIPI kemarin. Tentang tenaga matahari, saya sependapat dengan beliau. Dengan teknologi yang ada sekarang, memang hanya cocok untuk skala yang kecil. Salah satu penyebabnya, sinar matahari hanya ada pada pagi sampai sore. Sedangkan kebutuhan listrik terbesar pada sore sampai pagi. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan penyimpan listrik ( battery atau accu ) yang biaya investasinya cukup tinggi untuk skala besar. Disamping itu, biaya investasi perwatt untuk sel fotovoltaik masih mahal.

    Alternatif lain sudah tersedia yaitu memusatkan sinar matahari dengan rangkaian cermin parabola ke suatu boiler berbentuk tabung berwarna hitam pekat yang ditempatkan di puncak sebuah menara. Sekitar 30% dari uap yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin yang selanjutnya menggerakkan dinamo listrik. Sedangkan 70% lainnya ditampung di beberapa tangki bertekanan dan bertemperatur tinggi. Uap yang disimpan tersebut, selanjutnya akan digunakan untuk memutar turbin ketika tidak ada sinar matahari ( hujan atau malam ). Untuk mengurangi kehilangan kalor selama uap disimpan, tangki penyimpan dilapisi dengan bahan penyekat panas yang tebal ( seperti cara kerjanya thermos ). Sepertinya teknologi ini cocok untuk pembangkit berskala besar saja. Yang jadi masalah juga biaya investasi yang besar dan membutuhkan lahan yang luas. Saya pernah baca kalau teknologi ini sudah dipakai di Jepang. Saya tidak tahu persis perbandingan biaya investasi perwatt untuk kedua alternatif di atas, manakah yang lebih murah.

    Alternatif yang lain lagi juga sudah saya pikirkan.. Cara tersebut pada prinsipnya menggabungkan PLTA dengan pompa air bertenaga surya. Fungsi pompa air adalah untuk memompa air yang keluar dari turbin supaya kembali ke reservoir di atasnya pada siang hari. Supaya air yang keluar dari turbin pada malam hari dapat dipompa lagi ke reservoir, maka perlu dibuat penampungan yang besar. Sistim seperti ini dapat dibangun di daerah yang memungkinkan untuk dibuat dua buah genangan ( reservoir ) dengan selisih ketinggian ( elevasi ) 10 – 30 meter atau lebih. Mungkin juga dibuat di daerah yang sudah tersedia sebuah reservoir dan memungkinkan untuk dibuat satu reservoir lagi dengan elevasi yang berbeda. Sebagai contoh, pantai yang berbukit dan dapat dibuat bendungan setinggi 10-30 meter di dekatnya. Air laut dipompa naik ke atas bendungan dengan tenaga surya ( siang hari ) dan air dari bendungan menggerakkan turbin dan kembali ke laut ( terus menerus ). Supaya bendungan tidak kehabisan air, maka debit pompa harus sekitar tiga kali lebih besar dari pada debit turbin dengan asumsi pompa bekerja rata-rata 8 jam perhari. Tapi kalau menggunakan air laut seperti contoh tersebut harus dipikirkan juga dampak lingkungan yang muncul. Yang paling aman adalah menggunakan air tawar. Yang sekarang masih menjadi masalah adalah belum tersedia teknologi yang murah untuk memompa air menggunakan tenaga matahari. Sel fotovoltaik untuk menggerakkan pompa listrik sepertinya bukan solusi yang ekonomis untuk masalah itu karena harganya masih mahal dan efisiensinya masih rendah. Yang lebih ekonomis, mungkin menggunakan pompa yang memanfaatkan panas matahari secara langsung. Untuk itu, teknologi boiler di atas menara seperti saya uraikan di atas dapat digunakan. Saya juga sedang mengembangkan teknologi pompa air yang memanfaatkan panas secara langsung. Sumber panas dapat berasal dari pembakaran biomasa ( kayu, tongkol jagung, kulit kacang, dsb ) maupun dari sinar matahari yang difokuskan ( dikumpulkan ) dengan rangkaian cermin parabola. Pompa yang saya maksud sudah masuk tahap pembuatan prototype ( sudah sekitar 75 persen selesai ). Jika anda tertarik, dapat mengikuti informasi perkembangannya di blog saya ( http://paijo1965.wordpress.com/ ).

    Tentang masalah pengumpul sinar matahari yang diperlukan, saya juga sudah pernah membuat sketsa desain yang expandable dengan sistim cluster ( kelompok cermin ). Ada dua macam gerakan yang harus dilakukan oleh cermin yaitu mengikuti siklus pergerakan harian matahari dari timur ke barat, dan mengikuti siklus pergerakan tahunan matahari antara garis balik utara ( 23,5 % LU ) sampai garis balik selatan ( 23,5 % LS ). Supaya sinar tetap terkumpul di satu titik, maka posisi cermin harus berubah terus-menerus untuk memastikan bahwa sinar matahari selalu memantul ke titik yang telah ditentukan setiap saat sepanjang hari. Untuk itu diperlukan sistim tracking ( penjejakan ) matahari. Ada tiga alternatif yang tersedia untuk sistim tracking ini, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
    Alternatif pertama, menggunakan sistim full mekanik terpusat. Dengan sistim ini akurasinya mungkin kurang bagus dan perlu sering di-ajust. Kelebihannya, dapat dibuat sistim mekanik seperti jam ( menggunakan pegas atau bandul ) yang tidak perlu listrik sama sekali untuk skala kecil.
    Alternatif kedua, menggunakan perangkat tracking elektronik ( sensor dan motor listrik ) per-cluster. Dengan sistim ini akurasinya lebih bagus dan nyaris tidak perlu di-ajust. Kekurangannya, sebagian listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk tracking. Selain itu, dibutuhkan banyak sekali perangkat tracking dan khirnya jadi mahal juga.
    Alternatif ketiga, menggabungkan sistim mekanik dan elektronik. Prinsip dasarnya adalah sinkronisasi mekanik semua atau beberapa cluster sekaligus. Dengan sinkronisasi cluster-cluster ini, maka hanya diperlukan satu atau beberapa saja perangkat tracking. Jika tidak ada aral melintang, kolektor sinar matahari sistim cluster dengan auto tracking ini akan saya kembangkan dan buat prototypenya beberapa tahun yang akan datang setelah proyek MESIN PAIJO selesai. Sketsa desainnya sudah ada, tinggal membuat detailnya.
    Kalau kolektor sinar matahari yang sistim tunggal ( parabola ) dengan auto tracking, sudah orang lain yang mengembangkan lebih dulu. Kelemahan sistim tersebut, tidak dapat ( tidak praktis ) digunakan untuk skala besar. Dapat dibayangkan betapa sulit dan mahal jika harus dibuat susunan cermin berbentuk parabola yang luasnya 10 hektar. Belum lagi memikirkan bagaimana menggerakkan parabola raksasa dan berat selama tracking sepanjang hari.

    Kesimpulannya, ada banyak cara untuk memperoleh listrik dari tenaga matahari dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan sel fotovoltaik yang paling menonjol adalah sederhana, ekspandable / scaleable, senyap, dan saftyfactor yang tinggi. Untuk memanfaatkan tenaga matahari, tinggal dipilih teknologi yang cocok dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Yang penting, sebagai eksperimenter kita harus sadar bahwa sel fotovoltaik bukan satu-satunya cara. Rendahnya efisiensi sel fotovoltaik yang ada sekarang disebabkan karena bahan yang ada ( yang sekarang sudah ditemukan ) baru dapat menghasilkan listrik dari cahaya dengan spektrum yang sempit. Jadi cahaya yang memiliki panjang gelombang lebih panjang atau lebih pendek dari spektrum spesifikasi sel fotovoltaik ybs tidak akan termanfaatkan dan sebagian berubah jadi energi panas atau memantul. Saya tidak tahu persis, apakah sudah ada penelitian untuk mencari suatu medium cahaya ( benda bening ) yang dapat mengubah panjang gelombang cahaya yang melewatinya sehingga memiliki panjang gelombang yang seragam atau setidaknya spekrumnnya sempit dan cocok dengan spesifikasi sel fotovoltaik yang tersedia sekarang namun tidak kehilangan energi terlalu banyak. Cara aplikasi yang saya bayangkan adalah melapisi atau menutup bagian atas sel fotovoltaik dengan medium tersebut sehingga cahaya yang mengenai sel fotovoltaik sudah semuanya ( paling tidak sebagian besar ) dalam spektrum yang sesuai dengan spesifikasinya. Dengan cara ini, efisiensi sel fotovoltaik akan terdongkrak abis, mungkin bisa mencapai di atas 60 %. Kalau sudah tercapai efisiensi setinggi itu, pasti biaya invstasi per-watt-nya akan turun drastis asal harga medium dimaksud tidak terlalu mahal juga. Kalau ternyata belum ada penemuan tentang medium cahaya seperti yang saya maksud di atas, ini adalah peluang besar untuk Anda dan para neter lain untuk menemukannya duluan. Hasilnya akan saling melengkapi dengan upaya meningkatkan efisiensi sel fotovoltaik itu sendiri. Siapa mau duluan menemukan ? Berlomba-lombalah untuk meneliti.

    Mengenai kumpulan berita tentang energi alternatif dari koran / majalah, saya tidak punya sama sekali. Saya hanya membaca berita tersebut dari internet saja, dan kalau ada yang menarik saya download ke flashdisc untuk dibaca di rumah karena saya menggunakan koneksi internet di kantor yang online 24 jam. Untuk mengetik respons yang saya post ke forum-forum diskusi semacam ini juga saya sering lakukan di rumah, sehingga di kantor tinggal copy dan kirim pada jam istirahat. Setelah berita selesai dibaca, sering saya hapus. Jadi tidak ada bacaan saya yang istimewa. Namun saya harus mengakui bahwa ada hal yang membuat saya berbeda dari pembaca yang lain meskipun beritanya atau artikelnya sama. Kebanyakan orang, setelah selesai membaca artikel atau berita ya selesai sudah, tidak ada lagi yang dilakukan. Kalau saya tidak demikian. Jika ada sesuatu yang menarik dalam artikel atau berita tersebut, saya kemudian berfikir. Yang sering saya lakukan adalah mencoba mencari ide dan peluang yang secara tidak langsung mungkin dapat ditemukan pada artikel atau berita tersebut. Menurut pengalaman saya, terlalu sulit untuk mendapatkan ide orisinil dan bagus hanya dengan membaca satu dua artikel atau berita saja. Saya sering mendapatkan ide bagus justru setelah membaca dan berfikir tentang beberapa hal yang tampaknya tidak saling berhubungan satu sama lain. Namun kemampuan untuk itu harus dilatih terus-menerus. Tentang teknik mencari ide tersebut, kemungkinan saya akan menuliskannya dalam topik tersendiri di forum saya. Terimakasih dan lanjuuut teruuuuuussss diskusi kita supaya neter yang lain juga tertarik ikut nimbrung.

  5. 5 HARIOM YOGYA November 2, 2006 pukul 5:55 pm

    Bos Paijo
    tulisan tadi diatas sudah sama dengan yang saya bayangkan tempo hari pak……

    yaitu permainan reservoir bendungan kecil, jadi yang saya maksud pompanya dengan kincir air ( copy right ) seperti kincir Egra nya orang jawa barat, bukan dengan sel surya.
    jadi kalo dibilang tidak efektif ya memang tapi , bendungan tadi sebagai pengganti aki yang beribu-ribu amper ,misal dengan 10 unit kincir angin memompa air laut / tawar ke bendungan , dari bendungan kita pasang micro hydro turbine yang bisa hasilkan listrik , maka saya bilang tanpa disimpan ke aki maksud saya adalah demikian, dengan ketinggian bendungan yang cukup untuk hasilkan listrik secara stabil tanpa inverter dll yang biaya perawatannya tinggi Boss ,, bagaimana ? lumayan juga ya untuk ngirit buat rumah baterai penyimpan listrik
    ayo pak dikomentari , mungkin saya ada yang salah
    terimakaseh

    Hariom

  6. 6 HARIOM YOGYA November 2, 2006 pukul 5:58 pm

    Bos paijo
    ngomong2 anda coba2 riset teru2an biaya dari mana pak, mbok saya di dukung dana untuk riset juga ya, kalo bisa
    trims
    Hariom
    windminikota@yahoo.com

  7. 7 Emanuel Setio Dewo November 3, 2006 pukul 7:04 am

    Dear Hariom,
    Rasanya teknik Anda menyimpan energi dengan teknik bendungan bisa saja dilakukan, tetapi ada yang perlu dihitung, yaitu:

    – Efisiensi energi. Biasanya energi yang digunakan untuk memompa air ke bendungan bisa jadi lebih besar dari pada energi yg dihasilkan saat dialirkan & digunakan utk membangkitkan energi.

    – Efisiensi ruang. Kayaknya diperlukan tempat (lokasi) yang besar dengan bangunan yang permanen (dan tentu mahal) untuk mewujudkan bendungan tersebut.

    – Efisien waktu. Untuk mengisi bendungan diperlukan waktu yang cukup. Dan karena pemompaan dilakukan dengan kincir angin, maka pengisiannya sangat tergantung dengan angin.

    Penyimpanan energi memang saat ini paling baik menggunakan baterai atau aki karena konversi energi dapat dilakukan dengan singkat secara kimiawi. Tidak diperlukan komponen mekanis saat penyimpanannya, semuanya dilakukan secara kimiawi. Mungkin suatu saat kita dapat menciptakan sebuah baterai/aki dengan dimensi kecil tetapi mampu menampung listrik dengan kapasitas yang besar.

    Walau pun agak lambat perkembangannya, tetapi sekarang sudah banyak baterai yang dimensinya kecil tetapi kapasitasnya besar, misalnya Lithium Ion, Lithium polimer, dst. Sayangnya baterai2 ini masih kalah daya tahannya dibanding aki cari kimiawi.

    Untuk meningkatkan ketersediaan (availability) energi, idealnya pembangkit listrik itu hibrida alias campuran dari beberapa pembangkit sekaligus. Misalnya siang dengan sel surya & angin, sedangkan kala malam bisa kincir air dan juga angin.

    Saat ini pembangkit listrik yang paling efisien dengan availability tinggi baru dapat dicapai oleh PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir).

  8. 8 Paijo November 3, 2006 pukul 7:32 am

    Sdr Hariom, saya lega karena anda merasa sudah menemukan apa yang anda cari. Saya juga senang telah mendapatkan pencerahan dari diskusi kita. Kalau tidak, otak saya bisa beku karena saya sudah 14 tahun tinggal di pedalaman sehingga sulit sekali untuk mendapatkan teman diskusi yang memiliki minat pada pengembangan teknologi.

    Tidak ada yang salah pada pendapat anda. Yang paling terjamin kontinuitasnya memang jika pompanya tidak hanya satu macam. Sebagian menggunakan energi matahari, dan sebagian menggunakan kincir angin. Kalau dibangun ditepi laut, bisa juga ada yang menggunakan tenaga ombak. Kalau kombinasi seperti itu, pasti kontinuitas suplai air ke reservoir yang berada di atas akan lebih terjamin baik siang maupun malam, cuaca cerah maupun mendung/hujan.

    Kalau masalah pendanaan, saya minta maaf karena saya tidak tidak punya kemampuan untuk membantu anda secara finansial. Kalau untuk eksperimen saya, memang hampir semuanya saya danai dari kantong pribadi saya. Bagaimana mungkin ? Apakah Paijo orang kaya ? Itulah yang bikin penasaran banyak teman-teman eksperimenter baik yang pernah copy darat maupun yang hanya ketemu di internet seperti anda dan pak Dewo. Sejujurnya, saya harus bekerja keras untuk mendapatkan dana yang saya gunakan untuk eksperimen. Saya melakukannya karena eksperimen adalah hoby saya. Orang lain yang hobi otomotif rela mengeluarkan duit ratusan ribu bahkan jutaan hanya untuk mempermak motor atau mobilnya. Kalau ditimbang-timbang, manfaat praktisnya jauh lebih kecil dibanding biayanya atau bahkan tidak ada sama sekali. Motor atau mobil standar kan sudah okey dari pabriknya, untuk apa lagi musti dipermak segala ? Kalau demikian, apa yang mereka peroleh ? Kepuasan, itu saja.

    Kalau orang lain bisa berlaku demikian, kenapa kita tidak ? Tentu saja anggarannya disesuaikan dengan kantong kita dan aktivitasnya juga disesuaikan dengan hobi kita. Untuk memuluskan proyek eksperimen saya terutama dalam hal pendanaan, saya punya kiat-kiat khusus yang dapat saya sharingkan untuk anda. Saya tidak menjamin bahwa kiat tersebut pasti berhasil untuk anda atau orang lain, tapi setidaknya dapat dijadikan wacana dan bahan pertimbangan. Kiat-kiat tersebut antara lain :

    1. Dukungan keluarga
    Saya dengan istri dan anak-anak saya berusaha untuk saling memahami dan mendukung hobi masing-masing. Saya sering membantu mereka untuk masalah pot bunga, greenhause, pagar kebun, pipa air, rumah pohon dan sebagainya yang mendukung hobi mereka. Sebaliknya, mereka juga mendukung kebutuhan hobi saya. Mesin bor yang sekarang saya pakai adalah pemberian istri saya yang dibeli dengan uang THR yang dia terima pertama kali.

    2. Membangun kepercayaan
    Sangatlah penting untuk membangun kepercayaan diri dan kepercayaan masyarakat kepada kita. Kebanggaan menjadi eksperimenter dan reputasi yang baik harus dibangun sedikit demi sedikit dengan karya nyata yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang banyak. Teman-teman kerja saya bahkan memberi julukan Mc Gyver kepada saya sebagai bentuk pengakuan atas kreativitas saya di berbagai bidang mulai dari tukang batu, tukang kayu, tukang las, mekanik, elektronik, listrik, pemrograman komputer, analisa ekonomi dll. Untuk yang saya sebut terakhir, teman-teman saya tercengang ketika analisa saya ( dengan bantuan komputer ) secara tepat meramalkan waktu kejatuhan atau bubarnya Kospin dan Goldquest sampai bulan dan tahunnya. Ketika Kospin bubar, ada yang menganggap cuma kebetulan cocok. Tapi begitu Goldquest juga bubar pada waktu yang telah saya perkirakan, mereka menjadi semakin percaya kepada analisa saya. Sejak saat itu, saya dianggap seperti layaknya konsultan oleh teman-teman yang mau kredit uang di bank, kredit motor/mobil/rumah, dan bahkan asuransi. Itu semua terjadi karena saya telah berhasil meraih kepercayaan. Tentang analisa tersbut, saya akan bahas tersendiri secara detail di blog saya ( PAIJO ). Ketika kepercayaan sudah diraih, maka sponsor atau pemesan akan mudah diperloleh bahkan datang dengan sendirinya.

    3. Hidup hemat dan kerja keras
    Suatu ketika, keluarga kami harus membuat gudang di belakang rumah karena seluruh bagian rumah sudah sesak dan kacau seperti kapal pecah sehingga membuat gudang adalah alternatif terbaik. Istri saya mengijinkan saya membeli mesin las listrik setelah saya pastikan untuk dibuatkan terali jendela, gudang dan teras belakang dengan memanfaatkan pipa dan besi bekas yang dibeli kiloan dengan harga sangat murah. Setelah dihitung dengan cermat, harga bahan ditambah mesin las, masih jauh lebih murah daripada barangnya dipesan di tukang kayu atau bengkel las. Demi mendapatkan mesin las yang saya sangat inginkan, saya rela mengerjakan sendiri gudang, kamar tambahan, dan kamar mandi di belakang rumah. Mulai dari membuat pondasi, pasang batako, mengetam, me-router, mengebor, menggerinda, mengelas dan sebagainya saya lakukan sendiri. Totalnya banyak juga karena luasnya 36 meter persegi dan memakan waktu setahun karena hanya dikerjakan setelah pulang kantor dan hari libur Sabtu-Minggu. Berat memang, tapi hasilnya juga lumayan yaitu mesin las listrik 160 ampere, ketam listrik dan router listrik.

    4. Mencari penghasilan tambahan sambil mengasah skill
    Ketika saya tidak sibuk, seringkali ada teman yang minta tolong untuk dibuatkan barang-barang yang lazim dibuat di bengkel las. Bahkan ada pula yang membawa bahan sendiri. Diantara mereka ada yang memberi uang lelah atau sisa bahan yang mereka bawa. Yang paling penting, saya melakukannya sambil menambah jam terbang saya dalam pengerjaan las. Kalau dihitung-hitung, seluruh alat yang saya miliki sudah mencapai break even point. Tapi karena saya memiliki pekerjaan utama yang terikat dengan jam kerja yang ketat, maka lebih banyak pesanan yang saya tolak karena saya tidak ingin terlalu sibuk dengan rutinitas pekerjaan bengkel las yang dapat menghabiskan waktu saya yang seharusnya untuk bereksperimen. Saya tetap memegang komitmen bahwa bengkel las hanyalah pendukung hobi.

    5. Cari sponsor / rekanan
    Ketika saya diminta untuk membina anak-anak SMA yang akan mengikuti lomba di ITB dan ITS, saya langsung sanggupi tanpa pikir panjang. Keuntungan finansial untuk saya tidak ada sama sekali walaupun saya bersama anak-anak bekerja siang malam selama berbulan-bulan tanpa kenal hari libur. Saya mau melakukannya karena saya melihatnya sebagai kesempatan untuk melakukan eksperimen secara gratis sekaligus menjajal kemampuan saya di ajang bergengsi tingkat nasional. Meskipun belum berhasil menjadi juara, tapi saya bangga karena mereka berhasil menjadi finalis sejajar dengan team dari SMA TN Mgl, SMA Petra Srby, SMA BPPT Al-Fatah Lmg, dll yang sudah dikenal reputasinya. Dua team yang ke ITB semuanya masuk finalis yaitu peringkat 1 dan 5 dari 54 team. Sedangkan yang di ITS, 1 dari 5 team yang lolos yaitu finalis peringkat 13 dari 70 peserta. Menurut cerita anak-anak dan guru yang mengantar ke ITS, mereka kalah ( peringkat 4 dari 15 finalis ) karena faktor kesialan saja. Ketika alat dicoba di depan juri ada komponen ( 2 VR ) yang terbakar. Yang membuat mereka dan saya sendiri tidak habis pikir, mengapa terbakarnya di depan juri yang ujicobanya cuma 5-10 menit, bukan ketika diujicoba di rumah saya yang berjam-jam lamanya. Selesai lomba, mereka mengganti komponen yang terbakar dan anehnya berfungsi bagus tanpa masalah ketika dipakai selama berhari-hari dalam pameran. Itulan nasib, hanya Tuhan yang tahu.

    6. Cari pembeli / pemesan
    Bulan lalu saya melakukan survey lapangan untuk studi kelayakan pembangunan PLTMH di dekat rumah seorang teman kerja yang barusan pensiun. Sebagai calon user, dia sanggup mendanai sendiri proyeknya asal daya yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan listriknya ( sekitar 2000 watt ). Saya melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk membuat prototype teknologi kincir rantai yang belum sempat saya buat atas biaya orang lain karena kondisi medannya cocok. Selain itu, saya juga mendapat tawaran untuk membuat pompa hidram dan mesin pembuat jagung tik-tik ( makanan khas Flores ).

    7. Gunakan barang bekas
    Penggunakan barang-barang bekas ( jika memungkinkan ) yang dapat dibeli di pengumpul besi tua atau pasar dapat menghemat biaya sampai 70 persen. Sebagian besar eksperimen saya menggunakan bahan barang-barang bekas seperti pipa, plat, besi beton, gir, rantai, timer, saklar, bearing, baut, dsb ). Saya sampai membuat gudang 2×3 meter untuk itu. Kalau di kotanya sdr Hariom ( Yogya ) ada di Jl. Poncowinatan, Alun-alun selatan, dan sebelah utara pasar Beringharjo. Tahun lalu saya juga pernah lihat ditempat lain tapi lupa di pojokan Jogya sebelah mana. Kalau saya tidak salah ingat, di sekitar Pasar Telo. Kalau di Magelang ada di pasar Gotong-royong dan pasar besi di Jalan Ikhlas.

    Itulah kira-kira kunci sukses eksperimen-eksperimen saya. Bagi saya sekarang, memang belum memberi manfaat ekonomi yang signifikan karena sekedar hobi dan saya masih mempunyai pekerjaan utama yang lain. Namun demikian, sangat dimungkinkan untuk menjadi pekerjaan utama saya jika sudah pensiun yang harus mulai saya rintis jauh-jauh hari sebelum waktunya tiba. Terimakasih dan salam eksperimen.

  9. 9 HARIOM YOGYA November 3, 2006 pukul 6:17 pm

    Wah anda juga kenal pasar rongsokan, sama pak
    di amerikapun yang maju juga sangat populer dengan klitikan , disebut surplus shop hehe

    saya sudah kalah 2 kali pak, eh bentar saya tanggapi pak dewo , iya pak Dewo , memang listrik dengan ngumpulkan air dulu ke bendungan tidak efisien ,ya cuma dalam pikiran saya hanya dengan air pembangkit listrik yang murah dan stabil dalam arti kata dibanding invest batterai , ini sudah bukan rahasia lagi, kalo tidak pasti orang sudah tidak kebuntuan jika mau menyimpan listrik ke aki pasti…. wah mahal dan umurnya terbatas,
    Dan soal PLTN , ini saya dapat info dari orang yg kerja di batan , untuk indonesia jika pake pltn ,akan menderita double2 , coba bahan baku uranium .. beli , reaktor pesan luar juga, pembuangan sampah bayar lagi, ongkos angkut… , kena lagi , maudi buang kemana …musuhnya green peace bingung lagi.. kebocoran hihihihi… dampak lingkungan hehehhheeeh .. belum yang protes masyarakat… ?????? sedang urusan SUTET aja dibelain nggak makan sampai yang terakhir tiang SUTET di graji lha yo ambruk …, belum yang jualan uranium , mboikot soalnya , ada teroris yang ngebom2 lagi , amrik aja yang banyak reaktor nuklirnya di copoti semua ya…
    kecuali yang untuk militer

    http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/02/060209_usoil.shtml

    malah sekarang amerika menguatkan ketahanan pangan dalam negri mereka .. aneh ini ..

    Balik ke Pak Paijo , ya pak saya juga swadarah daging juga , pelan2 tapi lancar. ini saya sudah coba kincir diatas rumah ( dalam kota ) nggiling terus pak anginya 10 km /jam bisa nyalakan 2 bh lampu halogin 100watt an

    bentar lagi saya tulis tapi nyang 25 watt an saja untuk teman2 yang pengen coba2
    trims pak paijo

    salam
    HARIOM YOGYA

    • 10 bram Juni 18, 2012 pukul 5:58 am

      gan boleh mt no hpx g,klo boleh sms donk knoq 085652027793(bram),jdikan enak mau sharing,soalx susah online trus msalahnya saya krj dilokasi jd agk ssh sylx,tlong x call2 me

    • 11 bram Juni 18, 2012 pukul 6:05 am

      mr.hariom jogja klo g kbrtan send dunk no hpx kno 085652027793(bram) biar saya bisa sharing,soalx susah mau online trus ni,sinyal agk susah tpt saya.

  10. 12 Paijo November 7, 2006 pukul 6:42 am

    Sdr Hariom tinggal di pojokan Yogya sebelah mana kok anginnya kencang begitu. Saya tertarik dengan kincir anginnya ( yang 200 watt ), dan tolong kasih informasi seputar kincir angin tersebut :
    1. Posisi poros vertikal atau horizontal
    2. Ketinggian poros dari permukaan tanah
    3. Diameter rotor ( atau panjang baling-baling )
    4. Jumlah sudu ( jumlah daun baling-baling )
    5. Lebar sudu
    6. Bahan sudu
    7. Jenis, merek, dan spesifikasi dinamo yang dipakai
    8. Gear ratio ( jika menggunakan gearbox )
    9. Kecepatan angin minimal yang diperlukan
    10. Daya rata-rata yang dihasilkan
    11. Tegangan minimum dan maksimum sebelum masuk ke regulator
    12. Type / merek regulator yang dipakai
    13. Jumlah jam beroperasi efektif rata-rata perhari ( di Yogya )
    14. Perkiraan biaya investasi ( standar harga Yogya )
    15. Perkiraan break even point ( waktu kembali modal )
    16. Kelebihan dan kekurangan yang dirasakan pengguna
    Waduh …, kok panjang sekali daftar pertanyaannnya ya sampai lebih dari satu lusin. Tapi saya sabar menanti kok, terimakasih.

  11. 13 Emanuel Setio Dewo November 7, 2006 pukul 9:22 am

    Wah… semakin seru diskusinya. Semoga bisa dibikin modul pembangkit portabel.

    Oh, iya, Pak Hariom, sebenarnya Indonesia itu kaya akan Uranium dan Plutonium. Sempat dalam beberapa dekade Indonesia mengekspor bubuk Plutonium ke Perancis. Jangan salah, Indonesia sempat menjadi salah satu pengekspor terbesar. Kayaknya sekarang sudah berhenti karena terungkap bahwa ekspor ini bermasalah.

    Mungkin itu salah satu isyu mengapa Indonesia ingin memiliki PLTN, tentu karena kita punya tambang Plutonium/Uranium. Mengenai limbahnya, memang sempat jadi masalah karena tidak dapat diurai dan memiliki radiasi. Makanya packaging-nya dibuat khusus. Tetapi sempat pula sampah radioaktif ini dibuang ke luar angkasa.

    Walau pun begitu, terlepas dari efektivitas dan efisiensi PLTN, lebih baik kita mencari variasi pembangkit listrik yang lain. Misalnya dengan gelombang laut, panas bumi, dll.

    Salam.

  12. 14 HARIOM YOGYA November 7, 2006 pukul 9:17 pm

    Pak Paijo

    saya tinggal di pringgo /nganpilan yogya
    angin memang bisa segitu pak apalagi kalo agak tinggi lagi

    poros horiz 200 w max dinamonya, sampai bawah lewat macem2 kabel jadi loss

    tinggi dirumah saya 12 meter 2 pipa diatas kamar mandi hehehe

    Diameter kincir 1,7m sudu /proppeller 6 biji
    soalnya untuk kota
    lebar 18 cm an pak , bahan fiberglas
    Dinamo dc motor tape drive
    Gear pake gir becak hehe rasio 2
    Kincir start 3m /detik kira2, pada posisi ini kontrol lepas dari beban ,jadi ngaak berat Startnya , sensornya masih rahasia ,pake Micro Controller Atmel 89C2051
    Max angin saya br test 40km/j , lebih dari itu saya pake furling /buang muka, tapi ndak pake rem ,biaya nya kemahalan
    Hasil min 0 – 12 amp rata 3-4-5 amper chrage ke aki ,malah saya blm bikin regulator max ke aki , karena saya baru cari ngecharge se kuat2ny dulu untuk low wind

    kalo malam jam 10 baru melemah, kalo tower lebih tinggi , mungkin nggak mandek pak

    Biaya belum terhitung, karena br prototipe
    BEP nya juga belum ,enjoy aja pak
    kekurangan masih banyak , belum ada hitungan pokok bisa dipake dulu ya jalan aja

    kalo mau liat videonya ada di:
    http://www.geocities.com/windminikota/kincir1.wmv

    nanti ada beberapa video lain menyusul

    mudah2an ada bayangan

    SALAM HARIOM YOGYA

  13. 15 HARIOM YOGYA November 7, 2006 pukul 9:25 pm

    File video kincir nggak gede cuma 600 kb an
    pake media player windows xp ext *.wmv
    di download nggak sanpai 2 menit udah kelar
    di video ada 2 macam 1 prototipe 300 watt saya pasang di pantai sundak wonosari.

    dan yg satunya mini turbine 75 watt di rumah
    nggak pake kontroller start

    salam
    Hariom yogya

  14. 16 Paijo November 8, 2006 pukul 1:10 am

    Sdr Hariom, saya jadi bisa bayangkan sedikit tentang kincir tersebut. Tadi saya coba untuk download videonya ternyata tidak bisa. Ada catatan bahwa home page tersebut sedang di-rating dsb, hanya administrator yang bisa akses. Kalau bisa tolong dikirim filenya ke e-mail saya ( mr_paijo_paidin@yahoo.co.id ).

    Tentang spesifikasi teknis kincir Anda, masih ada hal-hal yang perlu penjelasan lebih lanjut yaitu :
    1. Anda menggunakan dinamo DC motor tape drive dan menghasilkan 200 atau 300 watt, bagaimana caranya ? Setahu saya, motor tape drive itu kecil sekali dayanya maupun ukuran fisiknya. Dari segi ukuran, lebih besar dinamo sepeda dari pada motor tape drive. Yang ukurannya cukup besar dan arus DC adalah motor starter mobil atau sepeda motor atau alternator mobil.
    2. Bagaimana mekanisme furling ( buang muka ) yang anda maksud jika kecepatan angin melebihi batas ( 40 km perjam ) ? Pada kecepatan angin tersebut apakah RPM kincir berkurang ataukah konstan atau malah berhenti ( untuk menghindari kerusakan ).

    Terus terang saya tertarik dengan kincir angin karena tempat tinggal saya sekarang ini hanya berjarak 200 meter dari tepi danau. Yang jadi masalah, perlu dibuat tower tinggi karena terhalang bangunan tetangga tapi takut kena petir karean daerah saya banyak petir dengan ketinggian rendah. Kalau kincirnya ditaruh dekat danau memang anginnya bagus tapi rawan pencurian. Namun demikian saya tertarik untuk mencoba di rumah teman yang memang persis di pinggir danau. Terimakasih.

  15. 17 HARIOM YOGYA November 8, 2006 pukul 9:41 am

    Pak Paijo,
    Motor saya ukuran 7,5 X 5,5 cm bekas motor tape drive komputer kuno,
    yang masih pake tape reel
    gitu, iya membuang muka, pake governor jika angin kencang dia akan nengok kekiri kincirnya
    sehingga rpm nya berkurang
    nanti di video saya pasang bendera di bambu dekat kincir saya, itu untuk tanda bahwa angin kencang atau tidak secara gampangnya
    test aja angin ditempat anda jika bendera 1m X 25 cm goyang 2 kecil artinya ada angin , kalo lbh tinggi lagi pasti lebih kibar
    dst

    itu dulu pak
    salam Hariom Yogya

  16. 18 Paijo November 8, 2006 pukul 11:58 am

    Sdr Hariom, terimakasih atas kiriman video kincirnya. Besok kita lanjut lagi diskusi kita.

  17. 19 away November 19, 2006 pukul 1:21 am

    Boss apa ada ga ya bahan kimia yang bisa menja di pembang kit listrik jika dia kedinginan
    atau kena kegelapan
    atau kena tekanan tinggi / maksudnya terhimpit beban dengan tonase yang besar… kan kalo ada bisa kita bikin

    PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DINGIN (ENERGI POTENSIAL)
    PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA KEGELAPAN ( ENERGI POTENSIAL)
    PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BERAT (ENERGI POTENSIAL)

    MARI TERUS BERMIMPI SIAPA TAU ADA JALAN KELUAR

    I LOVE YOU
    GUNUNG SEMPU JOGJA

  18. 20 HARIOM YOGYA November 19, 2006 pukul 4:30 pm

    Wah
    ini kerjaanya pak Paijo.

    kalo tenaga dingin kan proses pembekuan , bisa mengembang , tapi proses berulang2nya kan lama jadi belum ketemu gelaaap,,,

    tenaga gelap juga belum ketemu ya,mungkin pemburu hantu bisa kira2 :)

    kalo tenaga berat ya gravitasi ini masih mungkin ….

    salam
    HARIOM YOGYA

  19. 21 Paijo November 21, 2006 pukul 2:45 am

    Prinsipnya sih bisa saja menggunakan cara seperti itu. Contoh realnya, ketika dilakukan kompresi pada gas dalam ruangan tertutup, akan timbul panas dan temperaturnya akan naik. Energi panas tersebut merupakan hasil konversi dari energi mekanik yang digunakan untuk menekan / mengkompres. Hal seperti itu terjadi pada kompresor AC, kulkas, dan mesin pendingin lainnya yang bekerja berdasarkan siklus kompresi dan evaporasi bahan refrigerant. Panas yang timbul, cukup efektif untuk mengeringkan pakaian atau menggerakkan stirling engine. Karena prosesnya adalah konversi energi, maka tentu saja energi yang dihasilkannya tidak mungkin lebih besar daripada energi yang diperlukan untuk menggerakkan pendingin tersebut.
    Yang berpotensi besar adalah energi lumpur panas sidoarjo jika memang tidak dapat dihentikan. Mungkin beberapa megawatt. Listrik yang dihasilkan dapat untuk mensuplay pabrik blok beton dan batako yang menggunakan bahan baku lumpur yang sudah diekstrak energi panasnya. Ide saya untuk itu sudah ada dan dapat dilihat di forumnya Pak Dewo. Terimakasih.

  20. 22 dewo November 21, 2006 pukul 6:55 am

    Hallo Away, salam kenal.

    Kalau perbedaan suhu memang sudah bisa dibuat pembangkit listrik karena ada perbedaan potensi, yaitu panas dan dingin.

    Sedangkan kalau berat sih sepengetahuan saya belum bisa. Mungkin Pak Paijo dan Pak Hariom bisa sumbang saran?

    Kalau dingin atau gelap itu karena tidak ada panas dan tidak ada terang. Jadi yang bisa digunakan sebagai pembangkit listrik adalah sumber panas dan sumber terangnya itu, bukan gelap atau dinginnya.

    Salam

  21. 23 dewo November 21, 2006 pukul 7:01 am

    Ini sesuai dengan hukum kekekalan energi, yaitu bahwa energi bisa kita ubah dari bentuk 1 ke bentuk lain.

    E = mc2

  22. 24 Paijo November 22, 2006 pukul 1:37 am

    Pendapat saya, senada dengan yang disampaikan Pak Dewo. Pada prinsipnya, semua benda yang memiliki suhu mutlak di atas 0 derajat Kelvin memiliki energi potensial panas ( kalor ). Semakin tinggi suhunya, semakin besar energi panasnya. Karena kalor hanya bisa mengalir dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih dingin, maka untuk mengekstrak energi panas tersebut dan mengkonversinya ke bentuk lain diperlukan selisih temperatur. Semakin besar selisih temperaturnya, semakin besar pula energi yang bisa diekstrak dan teknologi yang dibutuhkan semakin sederhana.
    Prinsip tersebut sudah digunakan pada teknologi OTEC ( Oceanic Thermal Energy Conversion ) yang menghasilkan listrik dari selisih temperatur air laut di dekat permukaan dan di dekat dasar. OTEC paling cocok dibangun di laut yang mempunyai arus atas ( panas ) dan arus bawah ( dingin ) saling berlawanan arah sepanjang tahun.
    Stirling engine juga bekerja dengan prinsip beda temperatur tersebut. Jika anda tertarik, anda dapat mencari situs referensinya menggunakan kata kunci STIRLING ENGINE pada Google Search.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  23. 25 budi November 22, 2006 pukul 3:47 am

    mohon bantuan bapak apabila mempunyai informasi tentang cara membuat pompa air tanpa bbm, karena didaerah saya (cepu) apabila musim kemarau sawah yang ada tidak dapat diolah sedangkan sungai bengawan solo melintas dengan debit air yang cukup besar namun ketinggian air yang ada tidak konstan.

  24. 26 HARIOM YOGYA November 22, 2006 pukul 4:59 pm

    Pak Budi,
    Saya punya gambatan untuk itu kincir pompa
    Coba anda test angin di daerah bapak di sawah dengan ketinggian 3meter pake bambu diatas kita pasang bendera panjang 1 mt lebar 25 cm kalo anginya kencang / bendera kibar sampai lempeng / lurus ( rata2 ) 12 – 20 km/jam berarti bisa , dengan bahan yang murah meriah
    dan jangan lupa kedalaman sumur disana berapa ?
    juga pompa yang biasa dipakai jenis apa , kaya dragon apa jenis lain ?

    Salam
    HARIOM YOGYA.

  25. 27 zon November 23, 2006 pukul 2:04 pm

    Wah, ndak sengaja saya sampai di blog(?) ini. Bicara tentang energi dan penyimpanan, kawan saya ada yang spesialis dibidang ini. Sekarang lagi buat untuk pedesaan teknologi listrik tenaga surya. klo teknologi ini sih ndak spesial-spesial amat, yang spesialnya dia adalah teknologi penyimpanannya ke baterai.

    Secara sederhana dia pernah buat alat untuk penerangan nelayan membantu penangkapan ikan. Waktu chargenya sangat singkat 2-3 jam, tapi pemakaian nya bisa diatas 12 jam. Akinya cuma aki sepeda motor, dan penerangannya menggunakan lampu PL 10 watt. Nah dia lagi mau kawinkan teknologi chargingnya ini ke LTS dan juga mau di mini hydroturbin. Nanti klo ada press releasenya tak kabari.

  26. 28 HARIOM YOGYA November 24, 2006 pukul 5:07 pm

    Mas ZON

    Aki teman anda itu berapa amper? kok bisa menyalakan neon 10 watt sampai pagi ?
    kalo aki motor cuma 7 amper berarti 7 X 12 = 84 watt , kalo neon 10 watt nyala 12 jam saja 120 watt bagaimana caranya mas zon

    salam
    HARIOM

  27. 29 Paijo November 27, 2006 pukul 7:43 am

    Mohon maaf kalau lambat merespon karena adanya gangguan koneksi internet dan juga sedikit gangguan kesehatan.

    @Budi
    Ada beberapa alternatif teknologi yang dapat digunakan pada situasi yang anda hadapi yaitu POMPA COIL, KINCIR RANTAI dan RODA BERKAYUH. Saya bisa membantu gambarnya jika anda berminat. Untuk menentukan mana yang paling tepat, perlu beberapa data lapangan yaitu :
    1. Kecepatan arus sungai ( meter perdetik )
    2. Selesih ketinggian vertikal ( elevasi ) antara sawah dan permukaan air sungai ketika kemarau ( meter )
    3. Jarak antara sungai dengan sawah ( meter )
    4. Debit air yang anda perlukan untuk mengairi sawah ( liter perdetik atau liter permenit )
    5. Uraian singkat yang menjelaskan tentang topografi / relief dan keadaan lingkungan di sekitar lokasi yang memungkinkan dibangun pompa.
    Jika angin di lokasi cukup kuat dan konstan, perlu dipertimbangkan juga kincir anginnya sdr Hariom.

    @Hariom
    Karena kincir angin memiliki RPM yang cukup, maka jenis pompa yang cocok adalah type cenrifugal dan tipe propeler. Untuk pompa type piston seperti dragon mungkin kurang pas terutama untuk debit besar. Karena untuk irigasi tidak perlu air bersih tapi yang penting debitnya besar, maka lebih mudah jika memompa air sungai saja dan tidak perlu bikin sumur.

    @Zon
    Terimakasih atas infonya, ditunggu perkembangan dan info kelanjutannya. Lebih bagus lagi jika anda detailkan sesuai permintaan sdr Hariom.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  28. 30 San Desember 24, 2006 pukul 4:54 am

    salam knal smua….
    fiva energi indonesia…

    maaf, numpang bertanya. saat ini sya sedang mencoba membuat generator (seperti dinamo sepeda) dri magnet permanen bekas harddisk. tman2 da yg bisa membantu/menjelaskan kpd sya ttg teori ilmiahnya (induksi elektromagnetik dan hubungannya dgn konversi energi). klo da, mohon di send via email (ghurobasan@yahoo.com).

    terima kasih,
    san

  29. 31 Paijo Desember 28, 2006 pukul 7:58 am

    Teori yang digunakan sama dengan dinamo sepeda juga. Prinsipnya adalah membangkitkan listrik dengan mengubah fluk magnet. Adapun konstruksi dasarnya ada dua macam yaitu magnet berputar ( kumparan diam ) dan kumparan berputar ( magnet diam ). Secara teoritis keduanya sama saja karena gerak adalah relatif. Banyak yang lebih menyukai model magnet berputar karena lebih sederhana dan tidak memerlukan sikat karbon ( carbon brush ). Sedangkan untuk dinamo arus searah ( DC ), lebih disukai yang type kumparan berputar karena konstruksi cincin belah ( komutator ) yang lebih sederhana. Terimakasih dan salam eksperimen.

  30. 32 juliach Januari 9, 2007 pukul 2:16 pm

    Wah baru ketemu sama orang-orang intelek, sederhana & ramah lingkungan (harapan saya), jadi pengin pulang ke Indonesia aja & join dgn anda.

    @ Paijo & HARIOM
    Re. Tenaga angin

    Sudah ada percobaan di ujung desa Tulamben, Karangasem, Bali & di desa di Nusa Tenggara (saya sudah kunjungi di desa Tulamben th. 2002, konstruksi udah naik cuman belum beroperasi, untuk Nusa tenggara saya belum kunjungi). Bisa anda hubungi Mr. Casterman Hp. 08 12 89 61 969 yg membangun kincir itu. Saya berharap dia masih di Jakarta. Dia orang profesional, tapi sosial juga (kalo kita sosial).

    Untuk kincir angin : sudah kalkulasi biaya & energi yg di dapat?

    Energi matahari, sepertinya ok juga jika diterapkan di Indonesia. Tapi harganya?

    Jika hal ini diterapkan di desa-desa/pulau-pulau terpencil. Apakah bisa terlaksana? Maksud saya, pemerintah mau membiayai proyek ini?

  31. 33 pucco Januari 9, 2007 pukul 2:39 pm

    salam kenal…
    saya tertarik dengan mesin stirling. cara kerja mesin tersebut bagaimana?? dan gambar kerjanya bagaimana? saya masih bingung dengan jalannya sebuah mesin stirling.mohon jawabnya di send ke DJUBLANK@PLASA.COM
    makasih…

  32. 34 fajar gustami Januari 13, 2007 pukul 3:23 am

    Lagi2 ketinggalan berita.
    Saya sangat tertarik dengan energi alternatif.Dan saya sangat senang membaca pembicaraan Bp.Setio Dewo,Bp.Paijo dan Bp.Hariom.Intinya membahas energi alternatif.
    Sukses selalu.
    Salam-fajar.Jambi

  33. 35 Emanuel Setio Dewo Januari 13, 2007 pukul 3:43 am

    Pak Budi, Pak Zon, Pak San, Bu Juliach, Pak Fajar, Pak Pucco, dll,

    Selamat bergabung dalam diskusi ini. Silakan tuangkan ide dan kreasi Anda di ajang ini.

    Salam

  34. 36 m sumarno Januari 22, 2007 pukul 3:57 am

    sy. bukan orang eksperimen lapangan. tapi saya suka berimaginasi tentang penggunaan energi.

    salah satu imaginasi saya adalah: membuat energi listrik yang berasal dari air (PLTA) namun tanpa menggunakan dam/bendungan.
    prinsip kerjanya:
    aki motor sebagai penggerak pompa air yang akan memutar kincir
    sehingga mampu menggerakan dinamo pembangkit listrik.

    sehingga tidak diperlukan lagi bbm untuk menghidupkan mesin cukup air saja.

    kira-kira mungkin gak ya?

  35. 37 Paijo Januari 22, 2007 pukul 5:32 am

    @ m sumarno
    Apa yang anda bayangkan itu bisa saja bekerja tetapi secara netto tidak menghasilkan energi. Hal itu terjadi karena aki sebagai sumber energi awal juga perlu dicharge. Proses charging ini juga pasti perlu energi listrik yang jumlahnya selalu lebih besar daripada yang dihasilkan. Jadi secara teknis maupun ekonomis tidak layak untuk dibangun.
    Dalam sistem pembangkit energi, yang terjadi adalah proses konversi energi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Dalam konversi tersebut, selalu terjadi kerugian akibat gesekan, panas, kebocoran dsb sehingga output yang dihasilkan selalu lebih kecil daripada inputnya. Di internet, ada segelintir peneliti / eksperimenter yang mengklaim telah menemukan teknologi konversi energi yang memiliki efisiensi lebih dari 100 persen. Menrurut pendapat saya, itu adalah omong kosong belaka dan bahkan ada yang berujung penipuan uang jutaan dolar dari masyarakat ( di Amerika dan Canada ).
    Terimakasih dan salam eksperimen.

    • 38 masagi April 2, 2011 pukul 6:18 pm

      mas paijo menanggapi jawaban sampean yo,apa yang dikatakan sumarmo mgkn ada bebarnya, imajinasi UPS 400watt air terjun mengunakan water pomp tekanan tinggi dg daya watt rendah / 200 watt menembakan air ke turbin mini dg diameter lebar sehingga menggerakan generator induksi melalui gear box rasio 12:1

  36. 39 anief Januari 25, 2007 pukul 5:56 am

    wah salut sekali. ternyata masih ada yg concern dengan hal seperti ini di indonesia
    oh ya, menurut pemikiran saya:

    @ tenaga dingin/panas
    misal menggunakan prinisp bimetal bagaimana?
    kira-kira resistansi yang muncul antara dua metal yang berbeda koefisien panasnya bisa diubah menjadi energi listrik ngga?

    @tenaga berat
    misal menggunakan prinisp bandul/ pendulum kemudian gerak tersebut dikonversi menjadi energi listrik bagaimana?

    |\
    | \
    | \
    | \
    o

  37. 40 Paijo Januari 30, 2007 pukul 6:20 am

    @ anief
    Mohon maaf kalau lambat direspons. Biasa, kesibukan kerja. Tentang ide anda menggunakan semacam bimetal, sudah ditemukan sejak lama. Istilahnya thermokopel, yang akan menghasilkan listrik jika ada selisih temperatur pada kedua logam dalam rangkaian bimetal. Yang menarik, jika rangkaian tersebut dialiri arus listrik juga akan menimbulkan selisih temperatur. Sebelah panas dan sebelahnya lagi dingin. Teknologi tersebut telah digunakan pada sistim pendingin yang biasa dipakai pada komputer dan telah dijual belikan secara luas. Saya juga pernah dengar kalau sekarang telah diterapkan pada kulkas dan AC. Karena tanpa refrigeran (freon), jelas lebih ramah lingkungan.

    Sedangkan tentang tenaga bandul, memang dapat dikonversi menjadi tenaga listrik. Yang jadi masalah, bandul akan melambat dan akhirnya akan berhenti jika tenaganya habis dikonversi menjadi listrik. Untuk mengayunnya kembali juga diperlukan energi yang jumlahnya selalu lebih besar daripada listrik yang dihasilkan. Hal itu dikarenakan tidak mungkin membuat mesin yang memiliki efisiensi 100 %. Jadi secara teknis maupun ekonomis tidak feasibel.

    Sumber energi yang mungkin dapat dikonversi menjadi listrik secara ekonomis diantaranya adalah angin, ombak, sinar matahari, panas bumi, panas lumpur lapindo, panas air laut. Untuk bahan bakar yang terbarukan, limbah pertanian seperti sekam padi, kulit kacang, tongkol jagung, juga merupakan sumber yang melimpah juga. Pengembangan biodiesel, mungkin akan terkendala masalah lahan dan harganya yang tidak menguntungkan petani.

    Jadi, teruslah mencari dan mengembangkan ide kreatif terutama tentang energi alternatif yang sudah mendesak ini. Syukur kalau bisa melakukan eksperimen. Terimakasih dan salam eksperimen.

  38. 41 Adi Hartono Januari 31, 2007 pukul 10:51 am

    Halo semua,

    Salam dari Surabaya. Perkenankan saya nimbrung di diskusi yang buat saya sangat menarik ini. Saya sering baca bahwa pembangkit energi tenaga angin mempunyai pertumbuhan paling cepat di dunia. Just out of curiosity, apakah di Indonesia sudah ada ladang kincir pembangkit tenaga angin seperti yang ada di India?

    Cheers,
    Adi

  39. 42 Paijo Februari 1, 2007 pukul 1:27 am

    @ Adi Hartono
    Sedekat yang saya tahu ( kok saya jadi ikut bahasanya wadehel ), di Indonesia belum ada yang seperti itu. Padahal potensi angin kita sangat besar karena memiliki pantai yang mungkin terpanjang di dunia. Memang kecepatan rata-rata angin di daerah tropis tidak sekencang di daerah yang dekat dengan kutub tapi masih cukup ekonomis untuk dimanfaatkan. Teknologi yang digunakan juga tidak harus yang canggih amat, yang penting bisa dinikmati hasilnya. Kendalanya sepertinya justru di penentu kebijakan energi. Padahal dengan deversifikasi sumber energi, ketahanan energi nasional akan lebih terjamin. Disamping itu juga bisa menghemat devisa dan lebih ramah lingkungan. Sepertinya listrik murah ( tanpa subsidi ) baru sekedar mimpi.

    Karena itulah, saya dan Pak Dewo serta didukung oleh sdr Hariom dan beberapa eksperimenter lain mencoba untuk mencari teknologi energi alternatif yang murah, ramah lingkungan, dan tersedia untuk jangka panjang. Blog ini sengaja kami buat untuk sarana komunikasi, publikasi, dan juga menampung ide dan aspirasi masyarakat yang berhubungan dengan masalah energi. Jika anda punya gagasa atau ide apapun tentang energi, anda dapat menyampaikannya melalui blog kami.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  40. 43 Adi Hartono Februari 1, 2007 pukul 4:19 am

    Halo pak Paijo,

    Saya pikir kalo proyek PLTAngin ini (jika pernah dihitung) commercially feasible, kenapa pemerintah atau pihak swasta tidak mencoba untuk mengembangkannya ya?? (atau mohon informasinya jika sudah ada dan beroperasi?)

  41. 44 dewo Februari 1, 2007 pukul 5:03 am

    Hallo Pak Adi Hartono,

    Mungkin ada kepentingan atau kebijakan tertentu dari pemerintah sehingga belum mengembangkan PLT Angin ini. Misalnya saja nilai investasinya yg sangat besar. Atau karena minyak bumi dan batu bara dahulu dinilai sangat murah di Indonesia (sebagai penghasil minyak bumi & batu bara yg cukup besar) sehingga lebih menomersatukan minyak bumi & batu bara utk pembangkit listrik.

    Tapi memang jaman sudah berubah. Dan seharusnya kebijakan pun berubah.

  42. 45 anief Februari 1, 2007 pukul 6:07 am

    tambah rame saja nih,
    kalau online bareng2 mungkin bisa chatting :-P
    mungkin pak paijo atau pak hariom bisa bikin saluran he..7x

    @pak paijo
    soal bandul memang tidak bisa diharapkan, kemarin saya mampir ke website “museum of unworkable device”. ternyata banyak sekali yang pernah mencoba mencari energi yang tidak akan habis.

    oh ya, ngomong-ngomong soal kincir angin, saat ini saya sedang mencari bahan mengenai kincir EGRA.ada yang bisa bantu mengenai desain dan konstruksinya.
    beberapa minggu yang lalu saya main ke tempat teman di demak dan menemukan bahwa sawah disana kekeringan karena belum turun hujan. sementara posisi sungai lebih rendah dari persawahan. karena itu terpikir oleh saya bagaimana caranya untuk memompa air sungai ke sawah tanpa melibatkan energi listrik. cara yang termudah adalah menggunakan tenaga angin untuk memutar pompa. tapi berhubung saya kurang tahu soal mekanik maka dengan sangat saya mohon bantuan dari saudara saudara sekalian yang memiliki file desain atau konstruksi pompa yang saya inginkan untuk bisa share.

    terima kasih,
    regards,

    anief.setiadi@yahoo.com

  43. 47 Paijo Februari 1, 2007 pukul 9:07 am

    @ Adi Hartono
    Sepertinya kita tidak bisa terlalu mengharapkan pemerintah terutama jika monopoli listrik masih ada. Bukan karena tidak tahu atau apa, tapi karena sering ada kebijakan yang bertujuan menguntungkan pihak-pihak tertentu seperti mobil Timor, tata niaga cengkeh, tata niaga jeruk Kalbar, dsb. Dalam bidang energi juga sami mawon, terbukti ada pembangkit swasta yang listriknya wajib dibeli PLN dengan harga perkwh diatas harga jual PLN. Pihak swasta mungkin bisa tapi swasta yang dekat dengan pihak tertentu dan musti ada lampu hijau dari PLN dulu. Yang paling mungkin yang swadaya listrik seperti nama blog ini.

    Untuk PLTAngin yang sudah beroperasi skala besar spertinya belum ada di Indonesia. Yang sudah ada baru skala rumah tangga dan skala eksperimen seperti hasil kreasi sdr Hariom.

    @ Anief
    Kalau anda ingin mendalami masalah kincir angin, sdr hariom punya windminikota.
    Sedangkan untuk memompa air dari sungai ke sawah, saya bisa membantu membuatkan sketsa desainnya asal data lapangan anda relatif lengkap. Data tersebut meliputi :
    1. Debit air yang anda perlukan untuk sawah ( liter permenit )
    2. Debit air sungai ( liter permenit atau liter perdetik )
    3. Selisih ketinggian vertikal ( elevasi ) antara sawah dan permukaan sungai ( meter )
    4. Kecepatan arus sungai ( meter permenit atau meter perdetik )
    5. Jarak antara tepi sungai dengan sawah ( meter )
    6. Kecepatan angin di lokasi ( meter perdetik atau km perjam )
    7. Denah lokasi ( lebih baik lagi jik disertai foto dari beberap sudut pandang )
    Jika anda serius, anda dapat menyampaikan data lapangan selengkapnya ke email saya ( mr_paijo_paidin@yahoo.co.id ). Kalau desain sudah jadi, akan saya posting di blog ini maupun blog saya sendiri sekaligus agar dapat dipelajari siapa saja yang memerlukan. Namun saya belum bisa mengerjakannya segera karena anda menempati urutan ke-6 dalam antrian request di blog saya. Mungkin, sekitar bulan April atau Mei baru bisa saya kerjakan.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  44. 48 Adi Hartono Februari 1, 2007 pukul 9:54 am

    Halo Pak Dewo dan Pak Paijo,

    Saya pernah mikir masalah pembangkit tenaga listrik alternatif ini, dan akhirnya timbul beberapa pertanyaan yang cukup menggelitik saya. Mohon maaf kalo panjenengan saya tumpahin uneg-uneg dari hati saya:

    Kalo di negara kita masih banyak daerah-daerah yang belum terjangkau listrik PLN, kenapa tidak ada pihak swasta yang menyediakan failitas listrik tersebut (dengan asumsi, masyarakat di daerah tersebut mampu bayar listrik paling tidak dengan standar TDL)? Karena, kalo proyek ini economically feasible, ditambah harga listrik dari PLTAngin teorinya lebih murah dari TDL, orang bisnis pasti mikir ‘why not?’ (Lagian, kan si bisnisman mampu menawarkan ketersediaan listrik yang lebih murah dari PLN dan PLN belum mampu menjangkau daerah tsb)

    Kira-kira ada nggak ya, regulasi yang melarang pihak swasta untuk membangun suatu Pembangkit Listrik yang outputnya dikonsumsi oleh suatu daerah tertentu, tanpa harus diborong (*ehm* dimonopoli *ehm*) PLN semua?

    Ini saya ada sedikit referensi yang saya kira cukup menarik untuk di-share sama temen2:
    http://www.indianwindpower.com
    Di sana ada skema2 sederhana mengenai pembangunan dan distribusi listrik PLTAngin, dan bahkan ada informasi mengenai lokasi2 di India yang mempunyai debit angin yang cukup memadai untuk dijadikan site ladang PLTAngin. Wah, kitae jadi kalah jauhe dari para Indiane, he?

    Cheers all,
    Adi

  45. 49 dewo Februari 2, 2007 pukul 3:17 am

    Hallo Pak Adi Hartono,

    Iya, kita bisa membikin pembangkit listrik swasta. Dan ini sdh dibangun di beberapa kawasan industri. Tetapi, seperti Pak Paijo katakan, harganya ditetapkan lebih mahal dari pada TDL.

    Sedangkan untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat memang kurang ekonomis. Apalagi jika pelanggannya terlalu sedikit. Tetapi beberapa LSM dan institusi pendidikan secara swadaya telah membangun proyek percontohan pembangkit listrik di beberapa daerah. Umumnya memanfaatkan sungai (aliran air) dan beberapa memanfaatkan angin. Sedangkan untuk tenaga surya masih sedikit sekali karena tidak ekonomis.

    Kalau kita mau, kita juga bisa memulainya kok. Kalau saya sih cita-citanya setiap rumah punya modul pembangkit mandiri. Kalau bisa yg murah, kompak & mudah diinstalasi. Jadi harus dicari jenis pembangkit yg bisa efektif & efisien. Apa ya? Pak Paijo & Pak Hariom punya ide?

  46. 50 Tresna Februari 11, 2007 pukul 9:25 pm

    Salam kenal pak Paijo, surprise juga ketemu lahan diskusi
    “aneh” berbahasa Indonesia seperti ini lewat google.
    Kebetulan saya selalu tertarik oleh pembicaraan energi
    alternative yang murah, tergantikan, mandiri dan ramah
    lingkungan.

    Barangkali ada yang pernah tahu atau ikut penasaran
    dengan pemanfaatan sumber energi petir… ?
    Saya sering dengar penjelasan, bahwa petir merupakan
    pelepasan energi yang teramat sangat besar dalam sesaat.
    Kalau saja kita bisa menangkap dan menampung energi tsb
    kedalam suatu “reservoir energi potensial”…lalu secara
    terkontrol memanfaatkannya… apa secara teknis mungkin ?.

    Mengenai pemanfaatan energi angin, saya baca di BBC katanya
    Jerman yang tertingi sudah menghasilkan lebih 20 GW lalu
    USA, India,Italia, Belanda, Spanyol…dan Inggris urutan 11
    dengan “hanya” 2 GW dan berniat sekali meningkatkannya.
    Cuma katanya….siap-siap saja rekening listrik kita naik
    karena harga energi fosil yang selama ini dipake masih
    relatif sangat rendah. Dan instalasi kincir memang mahal.

    Orang-orang kreatif seperti pak Paijo pasti setuju, BBM
    4500 IDR (?) terlalu murah, jadi penghambat kreatifitas.
    Kalau saja semua orang Indonesia kreatif maka BBM mahal
    malah akan menguntungkan, bisa menjadi peluang :)

  47. 51 Paijo Februari 12, 2007 pukul 4:05 am

    @ Tresna
    Tentang pemanfaatan energi petir, sepertinya teknologinya belum tersedia sekarang. Alat penyimpan listrik yang ada sekarang masih membutuhkan waktu lama belum mampu melakukan proses penyimpanan dalam waktu sekejab untuk jumlah yang besar. Namum saya pernah dengar dari teman bahwa Rusia tengah mengembangkan teknologi tersebut. Kendala lainnya, adalah waktu dan tempat terjadinya petir yang relatif tidak menetap dan hanya terjadi di musim hujan saja.
    Kalau tentang harga BBM murah yang bikin orang tidak kreatif, saya sependapat dengan anda. Orang jadi malas melakukan riset energi alternatif juga karena BBM murah. Seandainya harga BBM tidak disubsidi sejak dulu, mungkin sekarang kita sudah lebih siap energi penggantinya.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  48. 52 michael Februari 15, 2007 pukul 3:43 pm

    salam kenal semua

    saya sering mengikuti diskusi ini hanya sebatas pemirsa saja, tapi rasanya saya ingin sedikit menuangkan pemikiran saya, dari seluruh energi listrik alternatif yang di rancang selama ini, rata-rata mengedepankan konversi energi tanpa disertai dengan teknik reaksi yang dapat menguntungkan bahkan menunjang bagi konversi itu sendiri, sebagai contoh dalam pembuatan PLTA dalam skala kecil dapat digabung dengan teori gravitasi dan fluida dan masih banyak teori lain yang bisa di gabung agar menjadi pembangkit hibrida dengan penggunaan lahan yang relatif sempit tapi mampu menghasilkan daya listrik yang memuaskan, dan yang paling penting, bisa memperkecil kemungkinan terhentinya system, karena seluruh pilihan sumber energi pasti ada keterbatasan. angin kadang tidak berhembus, air kadang kemarau dst.

    ada baiknya kalau kita bisa menggabungkan dari beberapa teori untuk membangun sebuah system yang bisa bisa menggunakan media apapun untuk terus bersirkulasi, sedangkan pembangkitan energi listrik hanya mengambil hasil dari system sirkulasi itu sendiri. dan yang jelas tidak akan melawan hukum kekekalan energi.

    sebagai contoh energi yang selalu ada dan bisa dibilang belum pernah habis adalah gravitasi, namun sampai sekarang belum ada alat untuk mengkonversi gravitasi secara langsung menjadi listrik, harus ada media yang digunakan, tinggal menggabungkan beberapa teori lain yang bisa membantu dalam proses tersebut.

    demikian sekedar sumbang ide yang masih menyisakan jalan yang panjang dalam penyelesaiannya, selamat melanjutkan experiment, semoga sumbang ide ini bermanfaat.

    terimakasih….

  49. 53 Emanuel Setio Dewo Februari 16, 2007 pukul 2:18 am

    Dear Michael,

    Sebenarnya saya sudah menuliskan tentang pembangkit hibrida, yaitu gabungan dari beberapa pembangkit sekaligus. Silakan baca di: Swadaya Listrik Mengatasi Pembodohan PLN, Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (Surya-diese) untuk Daerah Terpencil

    Terus berkarya. Salam.

  50. 54 michael Februari 16, 2007 pukul 10:02 am

    hallo pak Dewo, salam sejahtera

    wah, saya senang karena mendapatkan respon dari bapak, saya baca sekilas dari link yang anda berikan, cukup menarik.

    tapi hibrida yang saya maksut disini bukanlah gabungan banyak pembangkit seperti yang dicontohkan, karena itu akan meningkatkan development cost, cukup satu generator, atau alternator, namun digerakkan oleh sebuah media, dan media inilah yang harus digerakkan oleh sebuah system / mekanisme yang menggabungkan beberapa atau bahkan banyak teori baik fisika, kimia, dll, karena sudah diciptakan didunia ini segala sesuatunya berpasangan dan berlawanan, dan itu dapat kita manfaatkan.

    sebagai contoh, kita menggunakan media berupa air, dalam sistem yang kalau boleh saya bilang konvensional, air ditempatkan dalam reservoir dan kemudian dialirkan dengan debit tertentu guna menggerakkan generator, dengan lokasi melimpah air dan bukan merupakan dataran, hal ini cukup simpel, namun memakan tempat yang terlalu luas sehingga kalau menurut saya tidak bisa dibilang hibrida, lebih sulit lagi bila daerahnya merupakan sebuah dataran, sulit untuk mendapatkan head yang memadai.

    kenapa tidak dibuat sebuah kolam permanent berukuran kecil, anggap 1×3 meter, dengan kincir air diatasnya, anggap berdiameter 3 m juga, tingglal kita memikirkan teori apasaja yang bisa digabungkan agar air ini bisa terus bersirkulasi, bagaimana agar debit sirkulasi air ini bisa lumayan banyak, bagaimana rancangan kincir yang bisa menghasilkan efesiensi tinggi, baik dari segi daya, maupun usia.

    kalau hal ini bisa diwujudkan, banyak keuntungan yang bisa didapat, antara lain:
    1. tempat yang relatif sempit
    2. kesinambungan lebih terjamin, karena media mengalami penyusutan
    yang sangat minim, contoh ditas, media hanya mengalami penyusutan
    dari penguapan
    3. peralatan dapat dirancang sedemikian rupa agar bisa bertahan
    dalam jangka panjang
    4. bisa dijadikan pembangkit listrik rumahtangga
    5. dan masih ada beberapa keuntungan lain

    masih banyak cara lain, banyak media lain, dengan tingkat kerumitan yang pariatif.

    sekarang saya sedang memulai pembuatan aquarium pembangkit listrik yang menurut rancangan dan perhitungan saya bisa menghasilkan 240w continue, dan bila digabung dengan media penyimpan, bisa digunakan dengan daya lebih, mengingat penggunaan lebih banyak di malam hari, sehingga listrik yang tidak terpakai dapat disimpan di siang hari.

    semoga sedikit ide yang belum mateng “karena belum ada prototype-nya” diatas bisa bermanfa’at, mohon maaf bila ada salah kata dan tetap terus berexperiment.

  51. 55 dewo Februari 16, 2007 pukul 10:30 am

    Dear Michael,

    Hihihi… begitu tho. Tapi itu namanya bukan hibrida, tapi multi sources. Oh iya, gravitasi sebenarnya sdh dipakai untuk pembangkit listrik. Aplikasinya tentu saja dalam PLTA. Bukankah air mengalir itu karena gravitasi? Air itu mengalir ke daerah yg lebih rendah.

    Sedangkan di pelosok atau daerah terpencil kita bisa menggunakan air terjun untuk PLTA. Sedangkan kolam yg Anda maksud, berarti kita harus memompa air terlebih dahulu ke dalam bak penampungan (reservoir). Dan itu membutuhkan energi juga. Bahkan lebih besar dari pada yg dapat dihasilkan.

    Salam.

  52. 56 michael Februari 16, 2007 pukul 11:28 am

    dear pak Dewo

    air tidak selalu harus dipompa dengan pompa air, dengan asumsi menggunakan energi mekanis guna menaikan atau memindahkan air, tapi bahkan gravitasi juga dapat dipakai untuk menaikkan air, apabila digabungkan dengan beberapa teori lain yang sebenarnya ada dalam ilmu fisika dasar. sifat dasar gravitasi, air, udara, reaksi terhadap ruang dll, bisa menunjang. itulah sementara ini yang saya analisa, rancangan dan perhitungan sudah saya buat, tinggal membuat prototype (kalau ga’ sibuk, males, atau bokek, he..he..he..). tapi sebagai manusia biasa, rancangan ini juga tidak menutup kemungkinan masih ada kelemahan yang bisa mengakibatkan disfungsi.

  53. 57 Paijo Februari 16, 2007 pukul 2:46 pm

    @ Michael
    Sory, saya lambat merespons karena lagi tugas luar. Respons ini saya posting dari warnet di Makassar.

    Seperti yang telah dijelaskan pak Dewo, akan terjadi defisit energi pada sistem yang anda rancang. Apapun teknologi yang anda gunakan, jumlah energi untuk memompa air kedalam kolam akan selalu lebih besar daripada energi yang dihasilkan oleh pembangkitnya. Desain anda tersebut juga termasuk golongannya STIKA ABADI yang tidak akan mungkin untuk diwujudkan. Jika anda hitung ulang secara cermat, maka akan kelihatan bahwa energi untuk memompa beberapa persen lebih besar dibandingkan energi yang dihasilkan karena faktor gesekan dan kebocoran.

    Dalam mendesaian alat, beberapa eksperimenter sering lupa bahwa gravitasi adalah gaya, bukan energi. Gaya gravitasi tersebut akan dapat menghasilkan energi hanya jika ada massa yang bergerak mengikutinya. Pada banyak desain mekanik, banyak yang hanya menghitung gaya sampai lupa menghitung momen-nya. Pada desain yang menggunakan fluida juga sama saja, banyak yang hanya menghitung gaya berat dan lupa menghitung tekanan. Terimakasih dan salam eksperimen.

  54. 58 michael Februari 17, 2007 pukul 4:57 am

    @mr. Paijo

    wah, benar benar padat kesibukan pak Paijo, tapi masih bisa memberikan saran dan tanggapan dari ide yang saya buat, terimakasih atas waktu dan perhatiannya.

    saya tidak tau apa nama experiment yang saya kerjakan, STIKA ABADI atau apalah, maklum saya hanya lulusan STM jurusan Listrik, bukan lulusan perguruan tinggi yang banyak ilmu dan wawasan, hanya mengandalkan ilmu yang lebih banyak bersifat autodidak.

    seperti tulisan saya terdahulu, saya sedang mengerjakan aquarium pembangkit listrik yang saya perhitungkan mampu menghasilkan 240w continue, dengan menggabungkan beberapa metode dan teori, namun ada baiknya kritik dan saran dari forum ini sebelum prototype saya buat, dan saya akan menanyakan metode lain dari percobaan yang saya buat, tapi bila metode ini berjalan menurut forum ini, maka metode yang saya gunakan untuk membuat aquarium pembangkit juga akan berhasil.

    sebuah bak penampungan (anggap drum yang dindingnya diperkuat) berkapasitas 1000 l / +- 1000 kg kita tempatkan pada ketinggian 4 m dari dari permukaan air (anggap sumur dan kita bikin tower disampingnya). sebelum diisi air, bagian bawah dari bak kita lubangi kemudian kita pasangkan pipa berukuran 1″ ke arah bawah dan sebelum mencapai output kita buatkan lekukan(U), bagian atas kita tutup rapat dan kita buatkan dua lubang, satu untuk mengisi air kedalam bak secara manual dan dibuatkan penulut yang rapat(kedap), dan yang satunya kita pasangkan pipa berukuran 3/4″ juga mengarah ke bawah masuk kedalam air. pada pipa outlet yang 1″ kita pasangkan kran. setelah selesai, kita harus memastikan tidakada lubang lain selain dari dua pipa setelah kita menutup lubang pengisian air walau hanya sebesar lubang jarum, karena bisa mengakibatkan disfungsi system.

    langkah selanjutnya kita tutup kran outlet dan kita isikan air kedalam bak hingga penuh (kalau ga’mau rekoso yo jangan manual, pake pompa mesin atau listriklah, he..he..he..) kemudian kita tutup kembali lubang pengisian air rapat-rapat, ingat lubang sekecil apapun bisa menyebabkan disfungsi system.

    sekarang apa yangterjadi setelah kran outlet kita buka, mohon jawaban dari forum ini, apakah air akan mengalir terusmenerus(selama air sumurnya ga’habis kering) atau bagaimana.

    kalau sekedar mau dihitung, tidak untuk dipraktekkan, gambaranya ketika kran dibuka, air 1000 l atau sekitar 1000 kg akan bereaksi terhadap gaya gravitasi, dan air akan dipaksa keluar lewat pipa 1″ pada bagian bawah bak, tapi tunggu dulu, bak sudah kita rancang kedap, sedang sifat ruang mempunyai volume, dan volume bak sudah kita isi penuh dengan air, ketika air dipaksa untuk keluar, maka harus ada sesuatu untuk mengganti air tersebut, bisa berupa udara atau apapun, namun bak yang kita rancang kedap hanya menyisakan satu jalan untuk menggantikan air yang dipaksa keluar, yaitu pipa atas yang kita masukkan ke dalam air. sekarang kita bandingkan, volume 1000 l / 1000 kg, dengn volume pipa berukuran 3/4″ pipa sepanjang anggaplah 7 m, bereaksi terhadap gaya gravitasi, kira kira apa yang terjadi.

    ukuran dari pipa masih bisa diperbesar dengan sarat perbandingan volume masih rasional.

    mohon tanggapan dan salam eksperiment.

  55. 59 Emanuel Setio Dewo Februari 17, 2007 pukul 7:16 am

    Dear Michael,

    Memang betul bahwa kita bisa melawan gaya gravitas. Salah satunya dengan cara kapilaritet. Silakan baca di: Capillary Action. Di sini dijelaskan bahwa gaya kapiler ini:

    It occurs when the adhesive intermolecular forces between the liquid and a substance are stronger than the cohesive intermolecular forces inside the liquid. The effect causes a concave meniscus to form where the substance is touching a vertical surface. The same effect is what causes porous materials to soak up liquids.

    Tapi saya tidak begitu yakin dengan teori Anda karena air yg akan dihisap memiliki massa yg besar. Sedangkan pipa kapiler mestinya kecil sehingga rasio antara air dgn pipa bisa proporsional.

    Mengenai bak yg hampa & pipa yg juga hampa, mungkin bisa membantunya. Tetapi kayaknya tidak bisa kontinyu karena output hendaknya lebih rendah dari sumber air yg dihisap. Dan jika pipa yg untuk menggerakkan generator itu besar, maka gaya kapiler tidak bisa diterapkan. Padahal pipa output harus cukup besar utk dapat menggerakkan generator.

    Atau saya yg salah mengerti ya? Mungkin Pak Paijo bisa menjelaskan lebih baik?

    Salam.

  56. 60 michael Februari 17, 2007 pukul 10:44 am

    untuk pak Dewo

    sedikit saya tambahkan, sumur/kolam prinsipnya juga seperti bak, punya volume dan sebagian/seluruh volume sudah terisi air, dengan kondisi bagian atas terbuka, ketika air dalam kolam dikurangi, maka dengan mudah udara akan menggantikan air, sehingga berat air dalam kolam/sumur tidak perlu diperhitungkan, tinggal kita menghitung berat air dalam bak berbanding dangan air dalam pipa masuk, itupun sebenarnya hanya dari permukaan air hingga mencapai ujung siku pipa masuk ke bak.

    selain itu, kita juga harus memperhitungkan sifat dari air dan udara, berat jenis, kerapatan zat, dan lain-lain.

    kemungkinan masuknya udara dari pipa bagian bawah sudah saya atasi dengan membuatkan lengkungan (U, atau mungkin tepatnya seperti huruf J) pada ujung bawah pipa output, hingga udara tidakmungkin menyelam kedalam air untuk kemudian naik melalui pipa output guna menggantikan air yang keluar. jadi tinggal 2 kemungkinan, air mengalir dari pipa output, dan akan terus mengalir selama air disumur tidak kering dan ujung pipa input masih tenggelam dalam air dan tidak tersumbat, atau air tidak mengalir samasekali karena 1000kg air dalam bak tidakmampu mengangkat beberapa kg air yang ada dalam pipa input guna menggantikan air (zat) yang menempati ruang bak ketika beberapa liter air dengan terpaksa harus keluar karena gravitasi.

    catatan lain, bahwa dinding bak yang dimaksud harus kuat, karena bila tidak, ketika kran dibuka, bak akan mengempis, yang juga bisa menyebabkan disfungsi.

    demikian sedikit tambahan dari saya, dan terus berkarya.

  57. 61 Paijo Februari 19, 2007 pukul 2:07 am

    @ Michael
    Sistem yang anda desain tidak akan bisa bekerja. Untuk membuktikannya, bisa anda buat dalam skala kecil menggunakan botol bekas air mineral atau minuman bersoda ,pipa tembaga/alumunium, wax atau lem. Dalam sistem yang anda desain, yang bekerja adalah tekanan hidrostatik yang disebabkan oleh gaya berat air dalam pipa dan drum sebagai akibat adanya gravitasi bumi. Besar kecilnya tekanan hidrostatik tersebut hanya tergantung pada massa jenis fluida, percepatan gravitasi, dan elevasi ( selisih ketinggian vertikal ). Jadi tidak terpengaruh oleh total berat air yang disebabkan adanya perbedaan diameter pipa atau pemakaian drum sekalipun. Jadi untuk desain yang anda buat, kekuatan isap ke arah sumur, lebih kuat daripada kekuatan isap ke arah keran. Kekuatan isap ke arah sumur tersebut sebanding dengan ketinggian vertikal dari sumur ke titik tertinggi pipa di atas drum. Sedangkan kekuatan isap ke arah keran sebanding dengan ketinggian verikal dari keran ke titik tertinggi pipa di atas drum. Kedua kekuatan isap tersebut berinteraksi ( beradu kekuatan ) di titik tertinggi dari rangkaian pipa di atas drum. Dari selisih ketinggiannya, kekuatan isapnya jelas lebih kuat yang ke arah sumur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem tidak akan bisa bekerja. Kalau anda kehendaki, saya juga bisa tunjukkan perhitungan matematis besarnya kekuatan isap masing-masing.
    Uraian semacam ini saya pernah sampaikan di Forum Diskusi Energi LIPI, tapi thread yang bersangkutan spertinya bermasalah mungkin karena banyak spam yang masuk.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  58. 62 michael Februari 19, 2007 pukul 12:43 pm

    @ pak Paijo

    wah boleh juga tawaran untuk perhitungan secara matematisnya nich pak,

    terimakasih, saya tunggu.

  59. 63 Paijo Februari 21, 2007 pukul 2:12 am

    @ Michael
    Kebetulan tadi malam lagi ada mood untuk ngebahas perhitungan matematis pesanan anda. Artikel tersebut telah saya posting barusan di blog saya yang lain dan akan saya posting juga di blog ini nanti sore sesudah jam kerja. Judul artikelnya POMPA AIR TENAGA GRAVITASI. Terimakasih dan salam eksperimen.

  60. 64 michael Februari 21, 2007 pukul 3:22 am

    @paijo

    saya sudah baca artikel anda pada link http://paijo1965.wordpress.com/2007/02/21/pompa-air-tenaga-gravitasi
    /#more-47

    ada sedikit komentar yang akan saya berikan, itupun kalau anda berkenan. satu satunya variabel yang tidak ada dalam skema / gambar yang anda buat pada link itu adalah udara, seperti yang saya katakan pada tulisan saya sebelumnya sifat dari air dan udara, berat jenis, kerapatan zat, dan lain-lain turut mempengaruhi keberhasilan dari rancangan ini.

    memang benar teori fluida yang anda kemukakan, tapi beda kondisi akan menimbulkan perhitungan yang berbeda pula.

    secara akal, kita akan kesulitan mengisi bak/drum, dan seluruh system dangan air, pasti ada bagian dalam bak/drum yang masih di isi udara, ditambah udara dari pipa atas/input, pipa input tidak direkomendasikan menggunakan valve dan stopkran, karena valve akan membebani system dan stopkran memungkinkan kebocoran.

    dengan adanya udara dengan jumlah yang proporsional dalam system ini, menimbulkan adanya perbedaan massa, interaksi sifat dari udara maupun air, baik terhadap ruang, maupun gravitasi, dam mungkin masih ada hal lain yang belum saya perhitungkan karena masih diluar pengetahunan saya mengingat sdm saya juga terbatas.

    mohon maaf karena saya tidak bisa memberikan perhitungan detil secara fisika, karena mungkin justru yang saya perhitungkan masih kurang, dalam artian masih banyak perinsif yang bekerja dalam systim ini yang belum saya perhitungkan, maklum saya berpendidikan rendah.

    rancangan ini sudah direalisasikan pada tahun 1989, sytem ini dibangun dengn menggunakan dua drum yang disambung, dan dindingnya diperkuat dengan besi batuneser yang dilas keliling membentuk beberapa ruas seperti ruas bambu, hal ini dilakukan karena pada ujicoba pertama mengalami pengempisan pada bagian dinding. systim ini digunakan untuk menaikkan air dari sungai guna menjaga ketinggian air tambak.

    mohon maaf bila ada kesalahan, baik tersurat maupun tersirat, wasalam…

  61. 65 Paijo Februari 21, 2007 pukul 5:09 am

    Saya menggunakan istilah tekanan atmosfer untuk menyatakan tekanan udara diruangan terbuka. Tekanan atmosfer inilah yang membuat air mineral dalam galon tidak tertumpah walaupun galonnya ditempatkan secara terbalik di atas dispensernya. Tekanan atmosfer pula yang membuat pompa listrik dapat mengisap air dari dalam sumur. Oleh karena itu, pompa jenis apapun tidak pernah bisa mengisap air jika ketinggian vertikal kolom air dibawah pompa melebihi tekanan atmosfer di tempat itu. Besarnya tekanan atmosfer tersebut dipermukaan air laut adalah sebesar kurang lebih 1034 gram percentimeter persegi. Jadi bagaimanapun kuatnya pompa air mengisap, tidak akan bisa mengisap jika ketinggian vertikal pompa dari permukaan air melebihi 1034 cm ( massa jenis air=1 ). Untuk zat cair yang lain, ketinggian maksimalnya diperoleh dengan cara membagi 1034 dengan massa jenis zat cair yang bersangkutan. Sebagai contoh, ketinggian kolom dari air raksa ( Hg )yang massa jenisnya 13,6 adalah 76 cm karena 1034 : 13,6 = 76. Kalau ketinggian tekan dari pompa, tidak dibatasi oleh tekanan atmosfer tetapi lebih banyak dipengaruhi konstruksi dan kekuatan pompa itu sendiri. Jadi semua pompa yang bekerja dengan cara mengisap, tidak akan bisa bekerja pada ruang hampa yang tekanannya nol.
    Percobaan, pembuktian maupun perhitungan mengenai tekanan atmosfer ini sudah clear ( percobaan Toricelli ).

    Dalam sistem tertutup seperti itu, jika ada kolom udara didalam pipa atau drum, justru akan membuat air tidak mau naik. Hal itu disebabkan adanya perbedaan massa jenis keduanya yang membuat air cenderung berada dibawah dan udara cenderung berada di atas. Interaksi yang anda sebutkan, hanya berpengaruh pada tekanan hidrostatiknya saja dan akan membentuk kesetimbangan yang baru jika terjadi perubahan tinggi kolom air.

    Masalah kran dan one valve, itu tidak mutlak harus pakai atau tidak. Demikian juga leher angsa. Semua itu hanya alat bantu yang dipakai hanya jika diperlukan dan mempunyai tujuan khusus sesuai fungsinya. Ada tidaknya alat-alat tersebut tidak menambah maupun mengurangi variabel yang berpengaruh pada pompa tersebut. Apapun caranya, pompa tidak akan bisa mengangkat air jika tekanan dari A menuju B tidak lebih besar daripada tekanan dari C menuju B.

    Anda tidak harus menerima atau menolak penjelasan saya, itu terserah anda. Tapi saya juga tidak akan melayani adu argumen atau debat tentang topik ini karena bukan itu tujuan saya ngeblog. Soalnya saya sudah capek berdebat hal sejenis ini di Forum Diskusi Energi LIPI selama lebih dari setahun. Saran saya, coba buat dulu dalam ukuran kecil ( miniatur ) dan lakukan pengukuran maupun analisis tekanan. Ujicoba dalam berbagai kondisi termasuk jika ada udara didalam pipa atau drum. Setelah itu, saya yakin anda akan mendapatkan kesimpulan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Saya akan terbuka menerima jika ada yang bisa membuktikan dengan data dan percobaan ( yang dapat diulang ) bahwa penejelasan saya salah. Terimakasih dan salam eksperimen.

  62. 66 zon Maret 20, 2007 pukul 1:56 am

    Maaf, baru terbaca sekarang. Untuk pa Hariom

    —–
    You Wrote:

    Mas ZON

    Aki teman anda itu berapa amper? kok bisa menyalakan neon 10 watt sampai pagi ?
    kalo aki motor cuma 7 amper berarti 7 X 12 = 84 watt , kalo neon 10 watt nyala 12 jam saja 120 watt bagaimana caranya mas zon

    salam
    HARIOM
    —–

    Benar pa Hariom, kawan saya punya teknlogi charging yang menurut saya luar biasa. Untuk lampu penerangan yang bisa tahan 12 jam keperluan nelayan tsb sudah diproduksi banyak oleh kawan saya. Klo ada rekan/koperasi/perusahaan yang ingin membeli dan memasarkannya untuk membantu para nelayan dapat menghubungi saya. Cuma ya itu minimum pembelian 50 units. Tentu di uji coba terlebih dahulu sebelum pembelian.

    Teknologi charging dan penyimpanan ini bisa dipadukan dengan pembangkit yang sumber energinyanya tidak konstans seperti tenaga surya, tenaga angin, tenaga air.

    email japri saya di zonatjonggol pada yahoo.com

    wassalam

    zon

  63. 67 Paijo Maret 20, 2007 pukul 3:43 am

    @ Zon
    Terimakasih atas informasi anda. Dengan cara seperti itu, akinya bisa direcharge berapa kali. Data itu penting karena jika overcharged aki akan cepat rusak. Hal yang sama juga terjadi jika nge-charge dengan arus besar dengan maksud untuk mempersingkat waktu charge. Terimakasih dan salam eksperimen.

  64. 68 zon Maret 20, 2007 pukul 8:55 am

    Mas Paijo. saya sudah kontak rekan saya . Memang setelah saya kalkulasi energinya tidak masuk diakal saya tapi kenyataan begitu. Dalam lampu serba guna tsb beliau memakai suatu sistem energy(akan dipatenkan).

    Buat yang tertarik dan serius dapat japri saya via email.

    Data teknisnya:
    Lampu PLC 10 Watt, Battery 5.5 A 12 Volt. Charging time 3 Hours, Working time maks. 12 hours. Lampu tersebut dapat digunakan dikedalaman air maksimum 30 meter. (Memang dibuat khusus untuk digunakan nelayan).
    Menurut beliau arus yang dibutuhkan untuk charge seperti kita mencharge battery HP. Jadi tidak dicharge dengan arus yang tinggi yang akan membuat waktu pemakaian aki menjadi lebih singkat artinya normal charging / bukan fast charging.
    Oh ya ralat posting sebelumnya, minimum order setelah saya konfirmasi adalah 100 units, harga per unit dibawah Rp. 3 juta.
    Sekali produksi 1000 units. Sekarang masih banyak stocknya.

    salam

    zon

  65. 69 Paijo Maret 26, 2007 pukul 1:00 am

    @ Zon
    Terimakasih atas informasi anda. Sudah diproduksi massal tapi harganya masih tergolong mahal untuk kebanyakan orang. Sayang sekali karena hitung-hitungan energinya tidak bisa dijelaskan secara tuntas. Hal itu bisa berakibat kurangnya kepercayaan calon pembeli pada teknologi yang dipakai pada alat tersebut. Terimakasih dan salam eksperimen.

  66. 70 zon Maret 28, 2007 pukul 9:59 am

    Hitung-hitungan energy nya belum saya dapatkan. Secara logika memang tidak masuk akal terutama dari hukum kekekalan energi.

    Saat ini ada berita baru, saya ada artikel yang menarik tentang bagaimana system bekerja sendiri terus menerus dan mengambil energy dari environment.

    Dengan konsep dimana bumi sebagai rotor dan udara sekitar stator mendapatkan energy yang dihasilkan dari berputar bumi pada sumbunya.

    The law of conversation of energy applies to closed systems and only to closed systems. If there is energy coming in from the environment, then the law of conversation of energy just does not apply.

    Coefficient of performance, as the amount of power coming out of a system, divided by the amount of power that “ the operator ” has to put into that system to make it work. What we really need, is a method of pully of the power flowing in from the environment, without continually destroying the dipole which pusher the environment into supplying the power

    Dengan dasarnya inilah kemungkinan teman saya membuat sistem tersebut bahwa “Energy can be returned to a battery power source by its own load”

    berita di http://www.epesanan.com/artikel/bediniwinmotormike.pdf

  67. 71 Paijo Maret 29, 2007 pukul 12:54 am

    Pengambilan energi dari lingkungan ( environment ) juga dapat dihitung. Salah satu mesin yang dapat mengambil energi dari lingkungan adalah STIRLING yang bekerja berdasarkan selisih temperatur. Jadi mesin stirling bisa mengambil energi panas dari lingkungan asal terdapat selisih temperatur minimal 4 derajat. Batas minimal selisih temperatur tersebut tergantung dari kualitas dan mesin yang digunakan. Semakin bagus kualitas mesinnya, maka batas minimal selisih temperatur akan semakin rendah dan sebalikknya. Untuk yang sangat bagus dalam skala kecil, bahkan mampu bekerja jika diletakkan di atas telapak tangan dengan memanfaatkan selisih temperatur antara telapak tangan dengan udara. Mesin stirling juga dapat bekerja dengan memanfaatkan panas dari sinar matahari. Mesin stirling menggunakan prinsip konversi energi juga dan tidak bertentangan dengan hukum kekekalan energi.
    Kalau memanfaatkan rotasi bumi dengan bumi sebagai rotor dan udara sebagai stator, bagamana cara konversi energinya dan bagaimana perhitungan konversi energinya ? Salah satu masalah yang mungkin muncul adalah kecepatan rotasi bumi yang sangat lambat ( mendekati 1 putaran setiap 24 jam. Masalah lain adalah udara di permukaan bumi juga berputar seiring dengan perputaran bumi meskipun cenderung sedikit “tertinggal”. Akibat “tertinggal” tersebut muncullah gejala alam yaitu pembelokan angin pasat tenggara dan timur lain dan angin anti pasat barat laut dan barat daya. Seandainya bumi tidak berotasi, maka angin pasat dan anti pasat akan bertiup kearah utara atau selatan saja.
    Kembali ke masalah teknologi yang digunakan teman anda, ada kemungkinan listrik yang dipakai untuk menyalakan lampu tidak full seperti yang tertera tetapi sedikit di bawahnya. Yang jelas, tidak mungkin sistem listrik seperti itu mengambil energi dari lingkungan dan juga tidak mungkin energinya masuk kembali ke battery dengan sendirinya dari beban yang dialiri arus. Terimakasih dan salam eksperimen.

  68. 72 zon Maret 29, 2007 pukul 1:38 am

    saya sudah perbaiki nama file nya. Sekarang sudah bisa diakses di
    http://www.epesanan.com/artikel/bediniwinmotormike.pdf
    Artikel tentang selfrunning overunity motor.

    salam

  69. 73 Paijo Maret 29, 2007 pukul 3:13 am

    Sudah lama saya membaca tentang overunity ( STIKA ABADI ). Banyak tokoh-tokoh tentang overunity seperti Bedini, Dennis Lee, Minato, Bowman, dll. Ada diantara para pendukung overunity yang mengguakan trik kotor untuk menipu atau memperdayai eksperimenter lain dan masyarakat. Yang jelas, overunity adalah otopia sejak jaman sebelum masehi. Lagi pula, overunity bertentangan dengan hukum alam ( hukum kekekalan energi ) dan pasti tidak mungkin untuk diwujudkan. Mesin tersebut akan berhenti setelah beberapa waktu, ada yang beberapa menit, beberapa jam, atau beberapa hari. Yang paling heboh adalah Sundance milik Dennis Lee yang diklaim bisa menghasilkan listrik sekitar 30 Kw. Tapi klaim tersebut terbukti bohong belaka. Hal itu juga terjadi di Indonesia yang mana saya minta bukti di forum diskusi energi LIPI tentang keberadaan PLTMg yang sampai sekarang juga tidak ada kabarnya padalah deadlinenya sudah lama lewat. Terimakasih dan salam eksperimen.

  70. 74 michael Maret 29, 2007 pukul 9:06 am

    sedikit menanggapi berita dari pak zon, tentang penggunaan daya yang terkesan melebihi kapasitas.

    dalam konversi tegangan dc ke ac, selalu digunakan minimum dua tingkat proses, proses osilasi dan penguatan akhir, proses osilasi bertugas membentuk frekwensi, dan penguat akhir akan memanfaatkan prekwesi dari osilator guna dijadikan sebagai gate penghubung atau pemutus tegangan menuju ke transformator konveri, semakin tinggi frekwensi yang digunakan, maka efisiensi catudaya akan semakin tinggi, dan tidak menutup kemungkinan meningkat melebihi 100% (tergantung kualitas alat dan rancangan)

    tingginya frekwensi tidak akan berpengaruh (merusak) lampu tl/neon, dalam rancangn yang di informasikan pak zon, mungkin menggunakan sebuah rangkaian yang ber-arus sangat rendah dan bertegangan diatas 5200vac (tanpa beban) dengan frekwensi sekitar 400-450hrz bahkan mungkin lebih, kalau benar demikian, maka pantaslah kalau dihitung gak cocok, karena nilai efiseensi meningkat diatas 1 (diatas 100%)

    arsitektur lampu penerangan diatas bahkan mampu menghidupkan lampu neon yang sudah putus pilament pemanasnya (mati), namun kandungan gasnya masih ada, tanpa perlu menggunakan balast maupun lilitan kawat nikelin sebagai pembatas arus.

    saya pernah bandingkan antara penggunaan prekwensi 50 hrz dengan 450 hrz dengan beban lampu penerangan rumah saya, pada 50 hrz hanya bisa bertahan 10 jam, sedang pada 450 hrz bisa mencapai 3 malam dengan beban yang sama.

  71. 75 zon Maret 31, 2007 pukul 8:15 pm

    @michael

    Terima kasih atas info tambahannya p’ Michael. Saya akan diskusikan dengan rekan saya yang lain yang memang ahli dibidang mechanical & electronic agar saya bisa secara logika menerima hasil penemuan si X, (terus terang) untuk dapat masuk stage komersialisasi.

    Si X, adalah teman saya yang selalu mengadakan eksperimen dan sebelum-belumnya membuat alat-alat seperti Battery Backup, UPS sejenisnya.
    Kemampuanya terus berkembanga dari sekedar UPS sederhana terus mencipatakan UPS Industri , input 2 phase keluar bisa 2 phase atau 3 phase dan juga bisa untuk pemakaian peralatan seperti motor induksi, welding machine atau pekerjaan di outdoor yang membutuhkan listrik tanpa ada sumber listrik PLN/Gensset dalam waktu cukup lama.

    Si X memberikan sedikit “rahasia” atau clue untuk “memanage” penemuannya adalah Voltage dan Frekeunsi persis seperti tambahan info dari p’ Michael dan bukan pada Ampere

    Entah mengapa dalam pikiran saya (tepatnya feeling saya) mengatakan bahwa “Frekeunsi adalah sumber energi”.

    Sehingga kedepannya kita dapat menemukan peralatan yang masuk tahapan komersialisasi tidak sekedar “peralatan hemat listrik” dengan solusi kapasitor. Tapi peralatan dengan input dari PLN ditambahkan sumber energi konversi dari lingkungan sehingga tidak sekedar mengejar effisiensi tanpa merugikan PLN.

    salam eksperimen

    zon
    Frekeunsi/Resonansi adalah energi

  72. 76 michael April 3, 2007 pukul 8:01 am

    @ pak Zon

    peningkatan efisiensi tidak samadengan peningkatan energi, karena tidak merubah apapun dalam catudaya ( misal battery ), hanya cara pengkonsumsian daya yang berbeda tanpa mengurangi tujuan akhir dari konversi ( misal lampu neon = conversi energi listrik menjadi cahaya ).

    perhitungan konsumsi daya listrik = tegangan x arus x cosphi
    jadi bila kita bisa meningkatkan cosphi (faktor kerja listrik) dengan cara apapun, maka kita bisa menghemat penggunaan sumber energi listriknya, hingga meningkatkan durasi penggunaan sumberdaya listrik terbatas seperti pada battery.

    tapi yang harus diingat, bukan hanya ion bebas diudara yang dapat diikat oleh teknologi ini (teknologi tegangan tinggi berfrekwensi tinggi), tapi alat ini juga akan melepaskan ion ke udara bebas yang jumlahnya akan sangat tergantung dengan keadaan udara sekitar. dan efeksamping bagi mahluk hidup (termasuk manusia) akan sangat buruk bila sampai ion positive-lah yang dilepaskan, bisa mengganggu kesehatan dengan reaksi yang sangat cepat (dalam ruang). namun sebaliknya, bila ion negative yang dilepaskan, akan berefek positive bagi mahluk hidup sekitar.

    jadi jangan lupa mempertimbangkan hal diatas saat merencanakan rangkaian elektronikanya.

    salam

  73. 77 ulga April 6, 2007 pukul 6:30 am

    wow keren keren postingan nya
    saya cuma pernah eksperiment kecil kecilan pakai dinamo sepeda ontel utk membangkitkan tenaga listrik trus di buat kincir angin di atap rumah. hehehe itu sudah lama banget waktu smp.
    Sekarang saya pengen buat eksperimen penggabungannya dengan coil mobil utk menaikkan teganggannya atau dengan flyback tv sampai 10.000 volt lebih, tapi arus nya masih kecil cuma teganggannya saja yang besar.
    Trus gimana nih pak paijo biar bisa yang saya buat nanti nya bisa digunakan dirumah utk kebutuhan listrik saya :). Biar arus nya besar dan teganggan standart 220 volt, mohon petunjuknya bagi eksperimen mania.

    Salam viva eksperiment

  74. 78 Bay April 14, 2007 pukul 2:38 am

    salam kenal.

    blog yang bagus membuat pikiran saya terbuka, saya ingin sedikit mengemukakan ide nih.
    sebenarnya bukan ide energi baru tapi untuk meningkatkan hasil energi air.
    kalo prinsip selang yang mengalirkan dari ember ke luar gimana?
    sebabnya kalo diliat dari kecepatannya, lebih tinggi gunain selang ketimbang dibolongin dibawah embernya. (apa cuma tipuan mata?)
    menurut saya mungkin karena air sempat naik ke atas dulu melewati ember lalu dengan gravitasi turun lebih cepat

    V V
    x V x V
    x…..V….x V
    x V x V
    x x V
    x x V
    x x
    x x x x x

    walaupun memang tinggi air dalam ember harus lebih tinggi dari ujung selang keluar.
    kalo memang benar, kenapa ngak dipake di PLTA biar hasilnya lebih besar?

    mohon petunjuk & terima kasih

    Bay

  75. 79 zon April 24, 2007 pukul 1:41 am

    @ all

    News!!.
    Rekan saya sedang dalam uji coba alat ciptaannya dengan hanya sumber energy battery/accu 4 x 12V 50Ah (seri/48V) menghasilkan output max 800 watt AC 220 volt dalam janga waktu pemakaian lama sekali.
    Beban ujicoba sekitar 500 watt (tanpa beban induksi). Alat ini tanpa tambahan sumber energi lainnya. Hanya diawali pada accu yang sudah terisi.

    Alurnya, Accu/Battery — (DC 48V) — AC 220V —- LOAD , sebagian output digunakan kembali untuk charging Accu/Battery.

    Jika ada yang berminat sangat, akan diundang khusus pada saat lunching pada kalangan sangat terbatas! Rencananya hasil penemuan ini akan dilelang untuk komersialisasi.

    Email japri saja saya zonatjonggol [at] yahoo.com dengan menyatakan alasan minatnya dan latarbelakangnya.

    thx

    zon

  76. 81 rizal Juli 4, 2007 pukul 11:22 am

    Hanya komentar saja,

    Hebat …

    Saya orang awam sekali (tidak ngerti teori secara detail),
    tapi sangat tertarik dan terkagum kagum baca tulisan anda semua.

    Salam,
    Rizal.

  77. 82 Global Power Oktober 23, 2007 pukul 11:47 am

    Bilamana ada yang membutuhkan panel2 listrik, box panel, komponen panel, genset ataupun penangkal petir elektrostatik bisa klik alamat kami:

    http://www.g-powers.com
    http://www.globalpowerengineering.blogspot.com

    terima kasih.

  78. 83 ardy Oktober 29, 2007 pukul 8:17 am

    Salam kenal buat bapak2 semua saya sangat tertarik dgn adanya artikel ini saya masih awam tapi saya sudah lama punya ide utk membuat kincir tapi blum dapat model dinamonya maka dari itu saya mau tanya dimana saya bisa dapat beli dinamo yang bisa menghasilkan arus listrik dan harganya kira2 berapa? dan saya mau minta tolong sama bapak hariom yogja utk mengirim video kincir angin yg bapak ceritakan ke http://www.san75jaya@yahoo.com soalnya saya mau dounload tapi ga bisa.dan satu hal lagi bapak2 yg saya kagumi seandainya saya mau belajar menggulung sendiri bahan2 apa saja yg di butuhkan brapa banyak lilitanya biar arus yang keluar besar bagaimana caranya? mungkin bapak2 ada yang mau bantu saya. trima kasih banyak saya ucapkan. salam sukses buat buat semua. maaf klo saya ada salah ngomong.

  79. 84 bowo November 9, 2007 pukul 6:35 pm

    dear
    Mr.eksperimenter freelance,.!
    salam kenal,.”

    saya sangat tertarik dengan perbincangan yang diatas, yang pastinya mengenai konversi energi,.”
    mas paijo, menurut anda supaya effisiensi Pembangkit Listrik dengan menggunakan kincir air yang diletakkan di sebuah taman(2x4M) yang hanya memanfaatkan dari siklus air tersebut dapat menghasilkan listrik sampai 220V bagaimana,.”
    tetapi dengan komponen2 yang seminimalis mungkin,
    mungkin dasar ini akan saya coba untuk TA saya nanti, mohon bimbingannya,.”

  80. 85 Art Man Januari 16, 2008 pukul 4:04 am

    To Pijo, Hariom dan pengguna energi lainnya

    Salam Kenal,
    Baru kali ini saya ikutan gabung tentang pembahasan energi alternatif dan saya sangat tertarik karena saat ini saya sedang membuat konsep desain rumah tinggal saya yang ramah lingkungan dan memanfaatkan potensi alam seoptimal mungkin.

    Konsep desain rumah tingal saya saat menggunakan listrik tenaga angin namun, karena pengetahuan saya yang sangat minim bidang elektrikal saya mohon kiranya para eksperimenter dapat diberikan informasi teknis berupa gambar prototype desain serta peralatan yang dibutuhkan ke (dg.matarra@yahoo.com)

    salam sukse n trimakasih

  81. 86 Pakdehari Januari 29, 2008 pukul 7:41 am

    Sudah saatnya kita menerapkan ilmu dari kuliah atau sekolah

    Rekan rekan kalo anda merasa dan pernah tahu cara membuat membikin alat energi baru lakukan sekarang coba mencoba kaya mas Voll Yohanis Bosco yang meriset bbm campur air itu
    kita harus segera mulai walaupun dengan hasil gagal , untung muncul portal energi seperti ini, ini yang saya tunggu2
    kita bisa saling tanya demi masa depan indonesia

    saya juga sudah coba2 bikin aneka energi alternatif walau belum sempurna
    anda bisa lihat2 di
    www. youtube.com/pakdehari

    pakdehari

  82. 87 Muhammad Susilo Adiyanto April 10, 2008 pukul 11:04 am

    dear
    Mr.eksperimenter freelance,.!
    salam kenal dan hangat dari saya,.

    pak, saya Muhammada Susilo adiyanto, saya mahasiswa Teknik Industri ITS.. saya mau tanya..apakah mungkin kawat nikelin digunakan sebagai kumparan penghantar listrik didalam komponen untuk membuat “burner” yang membutuhkan daya 220 Volt???karena saya tertarik dengan burner yang terbuat atau memiliki komponen dari kawat nikelin

    terima kasih atas tanggapan dan informasinya
    best Regards,
    M.susilo adiyanto

  83. 88 khoirudin April 17, 2008 pukul 3:13 pm

    dear mr. paijo
    salam kenal dan hangat.
    nama saya khirudin. saya alumni UGM jogakarta. saat ini saya menjadi staff pengajar di SMK di lampung. pak paijo… terima kasih atas situs dan ilmu yang anda on line-kan, saya tertarik dengan pompa air grafitasi. saya mengangankan ini sejak dari bangku kuliah waktu di jogja. namun saya begitu terbatas. saat ini keinginan itu begitu menggebu-gebu. kalau boleh saya meminta boleh kah saya meminta artikel pembuatan pompa tersebut. saya saat ini berada di daerah pelosok di lampung dan saya ingin menggugah pemikiran anak-anak didik saya.
    trims banget infonya.
    KHOIRUDIN
    SMKN 1 SEPUTIH AGUNG
    Jl. Raya Dono Arum, Kecamatan Seputih Agung,
    Lampung Tengah 34162
    Khoirudin_2006@yahoo.co.id

  84. 89 trisno Juni 14, 2008 pukul 2:52 pm

    Salam, Pak Paijo.

    Saya tinggal di pedesaan pantai utara brebes. Bersama teman-teman petani di sana, saya ingin mengolah lahan yang kami punya/garap sepanjang waktu. tidak seperti saat ini yang bisa ditanami hanya di musim rendeng saja. maklum, tadah hujan, hingga tanam padi pun cuma bisa panen sekali dalam setahun.

    pokok kesulitan kami adalah kelangkaan air.

    Pasti ada jalan keluar, tapi kami terlalu bodoh untuk mencarinya sendiri. Kami yakin Pak Paijo mau menolong kami.

    Sepertinya, teknologi sederhana pompa air yang digerakkan kincir angin cocok untuk daerah kami.

    data berikut mungkin berguna:
    1. kecepatan angin +/- 5 m/dt
    2. muka air tanah (dimusim kemarau): 5 meter

    mohon kepada kami dikirimkan gambar/rancangan kincir angin penggerak pompa air. kalo bisa, sedetil-detilnya. maklum, otak kami terbatas kalau harus membayangkan yang rumit-rumit. maturnuwun.

  85. 90 bonni momenta Juli 7, 2008 pukul 12:04 pm

    salam kenal pak paijo…
    saya ingat sekali waktu kecil saya pernah baca buku, dimana disebutkan bahwa pohon pisang mengandung cairan elektrolit. disebutkan juga kalau kita menancapkan 2 keping logam penghantar yang berbeda jenis terus kita sambung kabel ke voltmeter akan menunjukkan bahwa ada arus listriknya. kira2 hal ini betul nggak pak? kalo betul kan enak kita buat kebun pisang trus kita sambung-sambung akan punya listrik gratis selama pohon pisang itu masih hidup??
    thanks

  86. 91 adolf September 22, 2008 pukul 3:27 am

    Pak Paijo, saat ini saya pribadi sedang getol2nya mempelajari tentang dinamo gerak untuk menghasilkan listrik ( karena latar belakang pendididkan saya nggak ada jadi harus belajar lagi). ini disebabkan kerana saya dari kecil gandrung dengan alat perang pak terutama Tank, kapal dan pesawat. apa hubungannya ? Pesawat itu kan ada baling2nya pak ( untuk yang digerakan oleh baling2 tentunya). Karena hobby akhirnya Ramadhan tahun ini seperti diberikan arahan untuk mendalami pesawat karena ternyata bagaian propeler alias baling2 ini jika dikembangkan akan banyak sekali manfaatnya.
    Hubungan hobby dan kerjaan
    Nah hubungannya saya jadi tertarik untuk membuat sumber green energy, setelah proyek minyak jarak saya kehilangan sponsornya pak. Tapi tak perlu mundur karena sekarang saya jadi menemukan pembangkit kincir tenaga angin ataupun air. Kebetulan saya kerja di PT. ASDp Indonesia Ferry, pak. Yang letak cabangnya banyak terletak di selat dan pantai tentunya. Angin rata2 di daerah pantai sangat mencukupi untuk menggerakan hal tersebut, (bahkan hingga menghasilkan 10 kW). belum lagi potensi arus air laut. pemanfaatan ini semua mengunakan turbin berpropeler ( seperti dalam tayangan Discovery Channel ada sebuah super market yang listrik untuk lampunya dipasok dari turbin tersebut yang ditaruh dalam east river, new york, dengan kecepatan arus sungai 4 knot).
    Bukannya mau mendahului yah pak Paijo, tapi saya sepertinya lebih suka dengan angin dan air kemudian digabungkan dengan propeler. Indonesia masih banyak yang nggak ngerti tuh pak untuk merekayasa propeler padahal ini bisa diawali dengan mainan. (saya juga pembuat mainan hand glidder pak, hehehehe untuk modal dan meriset).
    Semoga pencerahan dari bapak ini bisa akhirnya terus dikembangkan untuk kita menghasilkan kemandirian energi dan kemandirian ekonomi.
    banyak msih pak ide saya yang dapat dikembangkan tapi nggak mungkin di bahas disini takut kepanjangan hihihihiihih….. pokoknya selama ada bimbingan dari bapak pasti kita akan selalu maju.

  87. 92 pak tua Februari 17, 2009 pukul 9:23 am

    ass. semua… saya awam dibidang ini.. tp sangat2 tertarik pada energi yg melimpah dinegeri ini.. usul nich.. bagaimana cara mendaur ulang energi PLN yg tersalur dirumah kita menjadi lebih besar..shingga cukup 1 rumah yg berlangganan tp bs mensuplai 1 RT shngga biaya bs lebh murah ato mengembangkan energi bdasarkan energi cahaya/ sinar bukan hanya dari matahari..spt kalkulator yg menghasilkan energi kalo kena sinar lampu. shngga tidak tergantung apabila matahri gak keliatan..ato dari energi tumbuh2an .. sy tertarik pada pohon jambu nenek sy yg diikat pake kawat berduri sehingga sampai terjerat kuat bukankah.. memang bth waktu lama.. tapi dr sini salah satunya bs kita logikakan setiap ada benda yg bergerak akan menghasilkan sebuah energi baru dan kalo ada yg tertarik coba kunjungi situs ini http://sci-toys.com/index.html disana ada experimen untuk pemula dan anak2.. smoga bermanfaat bg kita semua.. untuk mas paijo salut sekali …wass

  88. 93 sunarso Juni 30, 2009 pukul 2:50 pm

    ass,
    saya mau bertanya, bagaimana pengaruh sudut sudu turbin air terhadap putaranya dan pengaruh jumlah sudu terhadap putaranya. terima kasih

  89. 94 Handy September 2, 2009 pukul 8:27 am

    Salam Sejahtera untuk semua LangLingLung Indonesia,

    Sangat menarik untuk membaca seluruh bahasan dalam blog ini. Sepertinya kita memiliki masalah untuk menyimpan energi listrik karena mahalnya media penyimpanan. Untuk itulah mungkin ahli ekonomi diadakan oleh Allah SWT. :)
    Saya barusan membaca artikel mengenai PLTS di Australia yang dimiliki oleh rumah tangga dan perkantoran. Pada siang hari produksi listrik mereka melebihi penggunaannya sehingga terjadi surplus. Surplus ini akan memutar meteran listrik terbalik dan energinya digunakan oleh kota. Pada saat ini perusahaan listrik bisa mengurangi pasokan.
    Dengan demikian, kita tidak perlu menyimpan energi listrik tapi hanya “meminjamkan” kepada jaringan listrik kota.
    Ada kemungkinan bisa diterapkan di tanah air?

    Salam

  90. 95 masyan Maret 8, 2010 pukul 3:42 am

    Selamat pagi, bagaimana dengan pompa hidram?

    kayaknya bisa jadi solusi, buat yang mau naikin air ke bendungan maupun yang irigasi. Untuk pompa hidram saya baru baca2 artikelnya di http://faizal.web.id/kutipan/hydram-pump-dengan-paralon-dari-ciwidey.html

    thank’s

  91. 96 Feber Sormin Juli 20, 2010 pukul 9:16 am

    Wahai sang pakar-pakar Listrik tenaga Alam…
    Saya mau bertanya, diwilayah Kampung saya itu adalah daerah pegunungan dan berbukit dan banyak dicelah-celah bukit/gunung arus sungai mengalir, dan mungkin cocok dibuat PLTA.
    Dari Sejak adanya PLN masuk ke Wilayah ini, Pihak PLN belum bisa memenuhi standar kebutuhan Listrik di Daerah ini, bahkan mati lampu tiap hari beberapa Jam, bahkan lebih lama Matinya daripada Hidupnya di wilayah ini sudah hal biasa. Apalagi kalau musim Hujan, maka jangan heran kalau listrik bisa mati diatas 6-14 Jam sehari, dan bisa saja tidak nyala hingga besok pagi jika mati dari sore / malam hari. Sehingga prasarana berupa penerangan, Komunikasi (HP, Internet) dan TV menjadi sesuatu yang berharaga di daerah ini jika bisa menyala.

    Maka dengan itu, Saat ini saya lagi menulis suatu tulisan (Iseng, Gila dan pelarian dari rasa kebosanan dikantor) tentang Layak atau tidak layaknya PLTA dibuat di wilayah kec. Marancar bagian Timur yang berjumlah kurang lebih 14 Desa dengan jumlah KK hampir 1000 KK. Wilayah ini dikelilingi HUTAN yang masih terjaga hingga sekarang. Jika saya hitung saat ini (2010) mungkin dengan rata-rata Kebutuhan Rumah Tangga 500 watt, maka kebutuhan Listriknya membutuhkan kurang lebih 550.000 watt hingga 650.000.- Watt atau u/ jangka 15 hingga 20 tahun diperlukan sekitar 700.000 watt hingga 1.000.000 watt

    Tulisan saya terhambat dengan perincian biaya-biaya yang dibutuhkan, termasuk Biaya pembuatan PLTA tersebut yang saya singkat PLTA LUMACMUR. Menurut tulisan saya, pembangungan dibuat dengan gotong royong seluruh masyaraat dan dikelola masyarakat secara Koperasi dan wajib bagi semua masyarakat ikut terlibat. Dan kebutuhan material seperti Batu dan pasir diusahakan dengan tidak perlu dibeli namun atas partisipasi seluruh masyarakat, contoh untuk kebutuhan Pasir diwajibkan setiap keluarwa wajib menyerahkan 1-2 karang Beras Pasir.
    Batu Kali yang dibutuhkan wajib disumbangkan setiap keluarga 2-3 batu per keluarga, dll.

    Barangkali Sang Pakar-pakar bisa membantu tulisan saya memperkirakan jika saya membutuhkan 3 Generator Turbin Listrik (sama tidak dengan istilah Kampung yaitu 3 DINAMO) dengan kapasitas harus bisa menghasilkan Daya Listrik sekitar 500.000 watt hingga 650.000.- watt.

    Serta biaya pembuatan Kincir dan juga kebutuhan untuk Tiang Listrik dan kabel jika Desa yang paling terjauh kemungkian sekitar 2 Km dari tempat rencana PLTA tersebut nantinya dibangun). Jika Masyarakat menyetujui, SDM seperti apa yang kami perlukan untuk: MEMBUAT PLTA tsbt, Pengelolaan PLTA tsbt dan Pemeliharaan Tersebut.
    Dan berapa kira-kira estimasi biaya untuk pembuatan PLTA tstb diluar biaya PEMBEBASAN LAHAN, MATERIAL (BATU, PASIR, DAN TENAGA BURUH.

    oh ya… hampir lupa… profesi saya adalah di bidang Akuntansi, Keuangan dan Perpajakan, jadi agak menyimpang sedikit pemikiran kan he.aha.a.a. namanya juga ISENG, GILA DAN menghilangkan rasa bosan dikantor ha.aha.a…a.a

    Mudah-mudahan ada yang bisa membantu Penulisan ini, sehingga bisa lebih cepat dipublikasikan dan diminiati sebagai salah satu alternatif sumber Listrik ke masyarakat di Kec. Marancar bagian Timur. Jika ada yang bisa membantu harga-harga tsbt diatas seperti Dinamo/Generator Listrik yang dibutuhkan, mohon email ke feber-s@cbn.net.id

    Terimakasih bagi yang membantu…

  92. 97 Jabon Juli 31, 2010 pukul 12:31 pm

    wah kreatif banget ya sudah punya inisiatif dari kecil ….

  93. 98 iklan property Juli 31, 2010 pukul 12:32 pm

    @jabon
    betul bon sangat kreatif ya… saya salut sama bang paijo ini

  94. 99 Jabon Juli 31, 2010 pukul 12:48 pm

    @property
    anda dulu seperti ini gak yang bisa ekperimen

  95. 100 darul amanah Juli 31, 2010 pukul 12:49 pm

    ok lah kalau begitu ,,,, salam sukses aja ya

  96. 101 Jabon Juli 31, 2010 pukul 12:50 pm

    salam sukses saja ya mas paijo …. saya akan meniru anda …. sukses buat proyeknya

  97. 102 bang pilot Desember 1, 2010 pukul 9:36 am

    Saya Muhammad Isnaini. Sudah sejak kecil ingin membangun PLTA hidro mini. Kendala yang dihadapi adalah tidak tersedianya sungai yang potensial di daerah saya.
    Sebenarnya, untuk skala rumah tangga, 500 – 1000 watt, satu unit PLTA mini saya hitung cuma akan menghabiskan dana 2 – 2,5 juta rupiah. Syaratnya, kincir harus dirakit sendiri dan pemasangan pipa, rangka dll dilakukan sendiri. Manfaatkan ban luar truk bekas untuk bilah kincirnya. Tentu saja bagian kawatnya harus dibuang. Air harus diterbankan dengan pipa paralon 4 inch minimal beda elevasi 6 meter.
    Tetapi kalau sungai sedalam 1 meter dan ada bagian yang cukup deras, bisa gunakan kincir kaki bebek yang dipasang mengapung di atas dua buah drum plastik. Lebih murah dan mudah pembuatannya.
    Memang semua ada hitung-hitungannya, tetapi PLTA mini hanyalah termasuk teknologi sederhana. Karena bisa begini : bila kincir kurang kuat memutar turbin, kita tinggal membesarkan kincir atau mengurangi beban.
    Kendala utama saya dalam berangan-angan, adalah dimana bisa membeli dynamo 1 kw 8 kutub ?

    Terima kasih untuk semua.

    • 103 untung suharto April 28, 2011 pukul 9:40 pm

      Salam hemat energi,

      Jangan membeli generator yang sudah jadi ayo buat sendiri dengan bahan yang ada dan mudah didapat,buatlah generator tipe axial flux 2 rotor 8 kutub 6 coil(gulungan kawat)…biaaya bisa jauh lebih murah coba lihat di facebook saya untung suharto.

  98. 104 untung suharto April 28, 2011 pukul 7:55 pm

    halo semua experimenter Indonesia,

    kalau baca2 blog bapak2 intinya mencari solusi energi terbarukan…wah kebetulan saya juga telah membuat sendiri generator listrik tenaga angin mulai membuat stator,rotor,dll saya kerjakan sendiri…dan syukurlah berhasil dengan baik.contoh yg sudah selesai dibuat dan sudah dipakai (walau untuk keperluan sendiri) bisa dilihat di Facebook untung suharto.

  99. 105 tri pamuncak.s Mei 5, 2011 pukul 5:25 am

    teknologi sekarang memakai 2 motor dc dgn permanen magnet.motor ini bekerja dgn cara diputar dgn listrik setelah beberapa rpm kemudian listrik berhenti yg kemudian motor berputar karena momentum sendiri kemudian diputar lagi dgn listrik.hasil listrik disimpan di kapasitor bank utk digunakan menyimpan listrik pada saat motor dc di “keluarkan” listriknya dan digunakan untuk menjalakan motor pada saat menmbangkitkan momentum putarannya.

  100. 106 tri pamuncak.s Mei 5, 2011 pukul 5:35 am

    cara lain adalah menggandeng 2 motor dc dgn permanen magnet pada sumbunya.1 motor berfungsi sebagai exciter lainnya sebagai generator.arus keluaran generator kemudian diolah di box khusus sehingga bisa untuk memutar exciter dan selebihnya untuk beban lainnya

  101. 107 dion Mei 15, 2011 pukul 3:18 am

    wah!! ini keren,, ayo kita bahas lagi lebih lanjut tentang sumber energi non konvensional,,
    sy adalah mahasiswa unhas,,
    sekarang sy sedang melakukan tugas akhir dengan judul “perancangan perahu dengan tenaga surya”,, berhubung dana sy terbatas, jdi sy usahakan menekan biaya untuk pembuatan alat, seperti:
    1. charge controller (untuk pengisian aki dari photovoltaic)
    2. dc chopper (dc-dc converter) sebagai pengatur putaran motor dc,,

    jadi sistemnya itu:
    2 buah PV 50 WP dirangkai pararel untuk memperbesar arus pengisian aki. Stelah dari aki digunakan untuk menggerakkan motor dc. dari motor dc dikopel dengan baling2 dengan menggunakan gear box jg untuk menaikkan putaran,, tetapi yang jadi permasalahannya sy menggunakan dinamo starter mobil L300 untuk menggerakkan baling2,,
    arusnya sangat besar (70 A) Aki yg sy pakai 100AH,, tetapi jika sy gunakan untuk menggerakkan perahu sy, waktu yg dapat disupply aki ke beban hanya (100/70)jam dalam kondisi aki penuh,, sedangkan PV 50WP yg sy rangkai pararel membutuhkan waktu lebih dari (100/70)jam untuk charge aki smpai penuh,,

    sy sadari kekurangannya adalah pada PV sja,, jika sy punya biaya yang cukup pasti everything’s gonna be okay,,, hehehe,,

    but, it’s not problem,, masalah terbesar sy dengan keterbatasan dana yg sy miliki adalah, apakah dinamo starter L300 ini mampu berputar dalam wktu yg lama??
    banyak penjual2 yg bilang kalo dinamo ini tidak bisa digunakan karena cepat panas dan bisa rusak di bagian medan coilnya,,
    tapi menurut sy untuk penggunaan di mobil memang dinamo seperti ini tidak boleh dilakukan secara continue krn torque yg dibutuhkan sangat besar untuk menggerakkan mesin,,

    kalo untuk kasus seperti yg sy ingin lakukan ini tidak membutuhkan torque yg besar krn bebannya hanya baling2 dan air saja,, yang sy butuhkan itu adalah torsi yang dihasilkan,,

    jadi, mohon tanggapan dan bantuanya yah dari teman2 semua untuk mendukung tugas akhir sy ini,, terima kasih banyak,,

    • 108 Emanuel Setio Dewo Mei 15, 2011 pukul 5:12 am

      Dear Dion, Sebaiknya memang tdk menggunakan dinamo starter utk penggerak baling2. Karena desain dari motor starter ini memang bukan utk penggerak melainkan hanya sebagai starter. Mungkin jika digunakan utk penggerak jadi tidak awet.

      Coba gunakan motor DC. Atau jika menggunakan motor AC bisa menggunakan konverter DC to AC. Motor AC banyak ditemukan di pasaran.

      Semoga berhasil.

      DewoDroid

  102. 109 Surya Arinanta Oktober 16, 2011 pukul 2:14 pm

    Malam ,saya surya saya punya ide yaitu Mesin listrik sistem siklus . Alat yg digunakan adalah dinamo dan generator.

    Dinamo = menghasilkan energi mekanik dan membutuhkan energi listrik.

    Generator = menghasilkan energi listrik dan membutuhkan energi mekanik.

    jika kedua alat ini digabungkan bukankah akan menjadi suatu mesin yang bekerja dengan saling mendukung satu sama lain, itu menurut saya. Kalau menurut anda bagaimana.

    • 110 ayuhan Desember 11, 2012 pukul 6:18 pm

      salam kenal saya juga berfikir seperti itu bos, dan sekarang lagi nyicil peralatanya rencana nya gini = dinamo dc12v aku copel ke wankel magnit motor aku copel lagi ke generator dc12v [dynamo amper/alternator],buat ngecharge accu 12v ,lalu diconvertpakai inverter 12vke 220v

  103. 111 phoedjieide Oktober 28, 2011 pukul 3:56 pm

    Wah,….sangat bagus….Perkenalkan sy Puji Hermawan dari Pemalang Jawa Tengah. sejak kecil sy tertarik dg teknik. knp sy br menemukan. sy jg senang bereksperimen. sy sangat kagum dg Bp. Paijo dan kawan2 yg hobi eksperimen.Banyak blog yg memuat tentang Pembangkit listrik tanpa BBM tanpa solar sel bahkan bukan tenaga angin kincir atau apapun. bahkan sy pernah melihat blog yg memuat Genset tanpa gerakan mekanik. Apakah menurut bpk2 itu bisa terwujud? krn dlm blog tersebut sedikit sekali penjelasannya. Alamat blognya sy lupa.

  104. 112 roeny Februari 14, 2012 pukul 8:39 am

    pak paijo,saya ingin berkenalan lebih dekat.kalau bisa minta alamat email dan nomer teleponnya+alamat rumah.guna keperluan yang lebih yang berhubungan dengan energi swadaya.berikut saya berikan alamat saya adalah roy.roeny@yahoo.com dan no hp saya 03170319861.terima kasih bpk paijo.

  105. 113 @NTO Februari 27, 2012 pukul 5:16 pm

    buat smua pakar 2/suhu energy di sini …

    minta informasi ….dimana yg jual motor listrik dc 1/2 hp atau 1 hp.

    ada yg motor dc buatan amrik / jepang ….tpi harga muahalllll sekaleee…

    cari motor dc china dimana ya belinya ?

    tks ….sebelumnya

  106. 115 @kh¥@r Mei 22, 2012 pukul 1:40 pm

    Pak tlg jelaskan cara membuat plta sederhana,dan bahan2 apasaja diperlukan?? Kodemaster@gmail.com
    terimakasih.

  107. 116 Akhyar Mei 22, 2012 pukul 2:55 pm

    Pak tolong jelasin cara membuat plta sederhana,dan bhan2 apa saja yg di perlukan untuk membuat plta sederhana?….untuk kelas siswa smp.
    [Kodemaster@gmail.com]

  108. 117 Akhyar Mei 22, 2012 pukul 2:57 pm

    Pak tolong jelasin cara membuat plta sederhana,dan bhan2 apa saja yg di perlukan untuk membuat plta sederhana?….untuk siswa smp.
    [Kodemaster@gmail.com]

  109. 118 Achmad Bae Desember 4, 2013 pukul 1:27 pm

    Ass,,
    bang Paijo, saya mau nanya soalnya saya mau bereksperimen, saya nanya cuman untuk mengurangi tingkat kegagalan pada ekssperimen saya,, yg saya mau tanya apakah diameter kawat tembaga, kemurnian tembaga, banyaknya gulungan itu mempengaruhi arus yang dihasilkan pada generator? apakah bisa mengganti stator dengan bahan kayu, plastik dan sbgnya? dan rotor dudukan magnet harus terbuat dari metal bang?

    salam berimajinasi sbelumnya bang,,

  110. 119 Johnd874 Mei 18, 2014 pukul 11:14 am

    Enjoyed examining this, very good stuff, thankyou . While thou livest keep a good tongue in thy head. by William Shakespeare. ddddfbdfdedc


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: